• KEISLAMAN

7 Cara Menata Hati dalam Islam agar Hidup Tenang

Agus Mughni Muttaqin | Jum'at, 18/07/2025
7 Cara Menata Hati dalam Islam agar Hidup Tenang Ilustrasi sedang menata hati dengan perbuatan

Terasmuslim.com - “Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”
(HR. al-Bukhari)

Hadis Nabi Muhammad SAW ini tak hanya populer, tapi sangat mendalam. Ia menegaskan bahwa hati ( qalb ) adalah pusat kendali manusia. Jika hati baik, seluruh amal dan perilaku pun ikut baik. Namun jika hati rusak, seluruh aspek kehidupan seseorang ikut rusak.

Dalam Islam, menata hati bukan hanya kebutuhan spiritual, tapi juga pondasi akhlak dan amal. Pertanyaannya, bagaimana cara menata hati? Mulai dari mana?

Jawabannya telah dijelaskan oleh para ulama, termasuk Syekh Khalib ibn ‘Utsman al-Sabt dalam kitab Nuzhatul-Fudhala’. Menurut beliau, sebelum bicara tentang amalan, ada satu syarat mutlak yang harus ditanam: niat dan tekad yang kuat dari dalam hati itu sendiri. Tanpa tekad, perubahan batin tak akan pernah terjadi.

Lalu, bagaimana langkah-langkahnya? Berikut 7 langkah menata hati dalam Islam dengan perbuatan menurut Syekh Khalib ibn ‘Utsman al-Sabt, yang dikutip dari laman Nahdlatul Ulama.

1. Mujahadah : Melawan Nafsu Secara Konsisten

Perjuangan batin melawan hawa nafsu duniawi ( mujahadah ) adalah kunci awalnya. Perjuangan ini bukan perjuangan semalam, melainkan membutuhkan keteguhan hati bertahun-tahun .

Ibnu al-Munkadir, seorang Tabi`in, berkata: “Aku menahan nafsuku selama 40 tahun hingga ia benar-benar tunduk.”

Artinya, siapa yang ingin hatinya bersih, harus siap sabar dan konsisten dalam perjuangan ruhani.

2. Perbanyak Mengingat Kematian

Mengapa hati kita sering keras? Karena kita terlalu sibuk dengan dunia dan lupa bahwa hidup ini sementara. Nabi SAW bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (kematian).” (HR. Tirmidzi)

Berziarah ke makam, menengok makam orang yang sudah meninggal, dan mengiringi prosesi pemakaman akan menjadikan hati menjadi lembut, tunduk, dan siap kembali kepada Allah.

3. Dekatkan Diri dengan Orang-Orang Saleh

Lingkungan sangat menentukan keadaan hati. Melihat wajah orang-orang bertakwa saja bisa membawa ketenangan. Karena wajah adalah cermin hati.

Seperti dikatakan para ulama: “Tidaklah seseorang menyembunyikan rahasia, kecuali Allah akan tampakkan dalam wajah dan lisannya.”

Bergaullah dengan mereka yang dapat mengingatkan kita tentang kehidupan setelah mati.

4. Renungkan Kebesaran Allah dan Jauhi Ketergantungan pada Dunia

Al-Quran mengajak kita untuk merenungkan alam dan keajaiban ciptaan-Nya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Ketika hati terlalu bergantung pada makhluk (anak, harta, pasangan), ia akan gelisah. Namun, jika ia bergantung pada Allah, hati akan kuat dan bebas.

5. Perbanyak Amal Baik

Amal saleh adalah pupuk bagi hati. Ibnu Abbas berkata: Kebaikan akan memberikan cahaya di hati, kekuatan di tubuh, dan kasih sayang kepada sesama. Sementara dosa akan memberikan kegelapan di hati, kelemahan di tubuh, dan kebencian dari sesama.

Setiap dosa menorehkan noda hitam di hati , seperti disebut dalam HR. at-Tirmidzi. Maka amal baik adalah obatnya.

6. Gunakan Hati Sesuai Tujuannya

Hati diciptakan bukan untuk kelalaian, tetapi untuk ibadah: tauhid, kontemplasi, rasa syukur, dan zikir. . Jika tidak digunakan untuk itu, hati akan kosong dan mati.

7. Dzikir dan Al-Quran: Makanan Sejati bagi Hati

Tuhan berkata: “Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Seperti makanan untuk tubuh, dzikir dan Al-Qur’an adalah nutrisi hati. Namun hati yang sakit—karena cinta dunia—tak akan merasakan manisnya dzikir, kata Sulaiman al-Khawash. (*)

Wallohu`alam