• KEISLAMAN

Masa Depan dalam Pandangan Islam, Bukan Diramal Tapi Dipersiapkan

Yahya Sukamdani | Selasa, 27/05/2025
Masa Depan dalam Pandangan Islam, Bukan Diramal Tapi Dipersiapkan Ilustrasi berdoa (FOTO: ADVENTISTHEALTHCARE)

Jakarta, Terasmuslim.com - Setiap orang pasti pernah memikirkan masa depannya. Apakah aku akan sukses? Apakah hidupku akan bahagia? Di tengah kegelisahan itu, Islam datang dengan pandangan yang menenangkan: masa depan bukan untuk ditakuti, bukan pula untuk diramal, melainkan dipersiapkan dengan iman dan usaha.

Berbeda dengan pendekatan horoskop atau ramalan nasib, Islam mengajarkan bahwa masa depan adalah bagian dari takdir yang hanya Allah tahu. Namun, itu bukan berarti manusia pasrah tanpa usaha. Islam justru mendorong umatnya untuk berikhtiar, berdoa, dan bertawakal.

Dengan begitu, masa depan bukan lagi sekadar teka-teki, tapi menjadi ladang amal yang disemai hari ini untuk dituai nanti, baik di dunia maupun akhirat.

Dalam Islam, masa depan adalah bagian dari ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan:

“Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok...” (QS. Luqman: 34)

Ayat ini menyadarkan kita bahwa sehebat apapun perencanaan manusia, tak ada yang bisa memastikannya akan berjalan sesuai harapan.

Takdir bukan alasan untuk malas

Meski masa depan sudah ditentukan oleh Allah, Islam tetap menuntut umatnya untuk berusaha. Rasulullah SAW bersabda:

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan malas.” (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, keyakinan terhadap takdir tidak boleh membuat seseorang pasrah tanpa tindakan.

Doa, senjata menghadapi ketidakpastian

Islam juga menegaskan bahwa doa bisa memengaruhi masa depan. Dalam hadis disebutkan:

“Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Maka bagi seorang muslim, berdoa bukan sekadar tradisi spiritual, tapi bentuk nyata ikhtiar menghadapi masa depan yang belum pasti.

Setelah merencanakan dan berusaha, Islam mengajarkan tawakal, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Tawakal bukan berarti diam, melainkan menyerahkan hasil akhir setelah usaha maksimal.

“Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, niscaya Dia akan memberi rezeki seperti burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Masa depan dalam Islam bukan hanya urusan dunia, tetapi juga tentang akhirat. Dalam QS. Al-Baqarah: 201, umat Islam diajarkan doa agar diberi kebaikan di dunia dan akhirat. Ini membentuk pola pikir seimbang: meraih dunia tanpa melupakan akhirat.

Islam melarang segala bentuk ramalan atau praktek mencari tahu masa depan lewat perantara gaib, seperti dukun atau astrologi. Rasulullah menyebut, siapa yang mempercayai ramalan seperti itu, salatnya tak diterima selama 40 hari.

Alih-alih menebak, Islam memotivasi umatnya untuk bersiap—dengan pendidikan, kerja keras, ibadah, dan amal salih.

Dalam Islam, masa depan adalah lahan yang dipersiapkan hari ini. Bukan sesuatu yang bisa ditebak atau ditentukan manusia, melainkan dititipkan oleh Allah untuk dikelola dengan iman, ilmu, dan amal.

Selama masih hidup, setiap langkah bisa menjadi investasi untuk masa depan yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat.