Ilustrasi mengharap ridho Allah (Foto: Pexels/Abdullah Ghatasheh)
Terasmuslim.com - Dalam dunia yang serba materialistis, banyak orang mengukur keberuntungan dari kekayaan, jabatan, atau popularitas. Namun dalam Islam, standar keberuntungan jauh lebih luhur dan dalam. Ia bukan sekadar pencapaian dunia, tetapi keselamatan jiwa, kelapangan hati, dan kedekatan dengan Allah ﷻ.
Keberuntungan sejati tidak selalu tampak dari luar. Justru, ia sering tersembunyi dalam ketenangan batin, istiqamah dalam ibadah, dan kemudahan dalam menempuh jalan kebaikan. Berikut tujuh tanda keberuntungan seorang hamba menurut ajaran Islam.
Tanda paling awal dari keberuntungan seorang hamba adalah hatinya yang lapang terhadap nasihat dan tidak keras menolak petunjuk. Hati yang lembut menjadi pintu bagi semua kebaikan.
"Jika hati baik, maka seluruh jasad akan baik."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang Allah mudahkan untuk shalat tepat waktu, bersedekah, mencintai ilmu, dan bergaul dengan orang-orang saleh adalah orang yang sedang dijaga oleh Allah.
"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan pahamkan dia dalam urusan agama."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Lingkungan bisa membentuk seseorang. Hamba yang dikelilingi oleh teman-teman yang mengingatkan pada akhirat, serta keluarga yang mendukung kebaikan, adalah orang yang sangat beruntung.
"Seseorang berada di atas agama teman dekatnya, maka perhatikanlah dengan siapa kalian berteman."
(HR. Abu Dawud)
Tidak semua orang bisa merasa cukup. Rasa syukur dan puas terhadap rezeki yang Allah beri adalah nikmat luar biasa dan salah satu bentuk keberuntungan batin.
"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya."
(HR. Muslim)
Umur panjang bisa jadi petaka jika dihabiskan untuk maksiat. Tapi jika digunakan untuk beramal, menebar manfaat, dan menambah ketaatan, maka itu adalah keberuntungan besar.
"Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya."
(HR. Tirmidzi)
Tidak semua orang yang hidup baik akan meninggal dalam kebaikan. Maka jika seseorang diwafatkan dalam keadaan membawa iman, salat, atau amal saleh, itu adalah anugerah terbesar.
"Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illallah’, maka ia masuk surga."
(HR. Abu Dawud)
Menariknya, dalam Islam, salah satu tanda keberuntungan bisa jadi justru ketika seseorang tidak diberi dunia secara berlebihan sehingga tidak terjebak dalam kelalaian.
"Di antara tanda keberuntungan seorang hamba adalah jika ia tidak diberi dunia yang melalaikan dan tidak terlalu mencintainya."
(dinukil dari nasihat ulama salaf)
Keberuntungan sejati dalam Islam bukan terletak pada seberapa besar yang dimiliki, tetapi seberapa dekat seorang hamba dengan Allah ﷻ. Hati yang tenang, amal yang terus bertambah, lingkungan yang baik, dan akhir hidup yang husnul khatimah adalah bentuk kemenangan yang sejati.
Maka siapa pun kita, selama masih hidup, selalu ada kesempatan untuk mengejar keberuntungan ini sebelum ajal menjemput.