Ilustrasi membuang makanan (Foto: Ist)
Terasmuslim.com - Makanan adalah nikmat dari Allah ﷻ yang seharusnya disyukuri dan dihargai. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali melihat makanan disisakan begitu saja, entah karena porsi yang berlebihan atau karena tidak suka. Padahal, Islam menaruh perhatian besar pada soal makanan, termasuk larangan mubazir atau pemborosan makanan.
Menyisakan makanan tanpa alasan yang dibenarkan bukan hanya mencerminkan kurangnya rasa syukur, tetapi juga termasuk perbuatan yang tidak disukai oleh Allah.
Tindakan ini memiliki implikasi sosial dan spiritual, mengingat banyak saudara seiman yang kekurangan, serta adanya adab Islami dalam menghargai rezeki.
1. Makanan adalah nikmat, bukan untuk dibuang
Allah SWT berfirman:
"Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
(QS. Al-A`raf: 31)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak menyukai sikap berlebih-lebihan, termasuk dalam mengambil porsi makan yang tidak mampu dihabiskan.
2. Rasulullah SAW tidak pernah menyisakan makanan
Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam menghargai makanan. Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa beliau selalu menghabiskan makanan yang diambil dan tidak pernah mencela makanan, bahkan jika tidak menyukainya.
"Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya, maka beliau akan memakannya. Jika tidak menyukainya, beliau akan meninggalkannya tanpa mencela."
(HR. Bukhari dan Muslim)
3. Mubazir itu saudara setan
Menyisakan makanan termasuk bentuk pemborosan atau mubazir yang dikecam dalam Islam:
"Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan..."
(QS. Al-Isra: 27)
Perbuatan mubazir menandakan sikap tidak bertanggung jawab terhadap nikmat Allah.
4. Menghargai jerih payah orang lain
Makanan yang kita nikmati melibatkan kerja keras petani, pengolah, hingga penyaji. Menyisakannya tanpa sebab adalah bentuk tidak menghargai jerih payah tersebut. Dalam Islam, menghormati usaha orang lain merupakan bagian dari akhlak mulia.
5. Banyak orang yang tidak bisa makan
Saat sebagian orang membuang makanan, jutaan orang di belahan dunia lain justru berjuang untuk mendapat sesuap nasi. Menyisakan makanan menjadi bentuk kurang empati terhadap sesama.
6. Ajarkan anak untuk menghabiskan makanan
Pendidikan adab sejak kecil sangat penting. Anak-anak perlu dibiasakan untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskannya. Hal ini membentuk karakter disiplin dan rasa syukur sejak dini.
7. Solusi: ambil secukupnya
Islam tidak melarang makan enak atau banyak, asalkan tidak berlebihan. Maka, solusi sederhana adalah ambil makanan secukupnya. Jika masih lapar, boleh menambah, bukan langsung mengambil banyak tapi disisakan.
Makanan adalah rezeki yang seharusnya disyukuri dengan cara menghabiskannya. Menyisakan makanan bukan hanya soal etika, tetapi juga menunjukkan bagaimana kita menghargai nikmat Allah dan orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
"Sesungguhnya Allah meridhai seorang hamba yang ketika makan, ia memuji Allah; dan ketika minum, ia memuji Allah."
(HR. Muslim)