• KEISLAMAN

Sejarah Idul Adha, Dari Pengorbanan Nabi Ibrahim AS Untuk Umat Islam

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Jum'at, 16/05/2025
Sejarah Idul Adha, Dari Pengorbanan Nabi Ibrahim AS Untuk Umat Islam Ilustrasi Idul Adha (Foto: tribunnews)

Terasmuslim.com - Dalam tradisi Islam, terdapat dua hari besar yang diperingati umat Muslim di seluruh dunia, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Keduanya memiliki latar belakang dan nilai spiritual yang berbeda. Idul Fitri menandai akhir dari bulan Ramadan, sementara Idul Adha berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji serta semangat pengorbanan yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS.

Idul Adha jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah. Hari ini bukan hanya menjadi ajang penyembelihan hewan kurban, melainkan juga momen penting yang memperingati kesetiaan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, dalam memenuhi perintah Allah SWT. Bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, Idul Adha menjadi kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan melalui kurban dan amal kebaikan lainnya.

Di Indonesia, Idul Adha juga dikenal dengan sebutan “Lebaran Haji”. Nama ini mencerminkan keterkaitan hari raya tersebut dengan pelaksanaan ibadah haji di Makkah. Pada saat jutaan jamaah melakukan puncak ibadah di Arafah, umat Islam di tanah air melaksanakan salat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketundukan kepada Allah SWT.

Secara bahasa, istilah Idul Adha terdiri dari dua kata Arab: ‘Id, yang berarti “hari yang kembali berulang”, dan Adha, yang berasal dari kata udhiyah, bermakna “kurban” atau “penyembelihan”. Maka, secara keseluruhan, Idul Adha dapat dimaknai sebagai hari raya yang diperingati setiap tahun dengan ibadah kurban sebagai ritual utamanya.

Idul Adha dilandasi oleh peristiwa besar yang tertuang dalam Al-Qur`an, ketika Nabi Ibrahim AS diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail AS. Meskipun berat, beliau siap melaksanakannya demi ketaatan kepada Allah. Nabi Ismail pun menerima perintah tersebut dengan penuh kesabaran:

"Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102)

Namun, atas keikhlasan dan ketundukan mereka, Allah menggantikan Ismail dengan seekor hewan sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan mereka:

"Lalu Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaffat: 107)

Kisah ini menjadi dasar ditetapkannya syariat berkurban dalam Islam, sebagai simbol kepasrahan dan kedekatan diri kepada Allah.

Penyebutan “Lebaran Haji” merujuk pada pelaksanaan Idul Adha yang bertepatan dengan rangkaian utama ibadah haji. Pada tanggal 9 Zulhijah, jamaah haji melakukan wukuf di Arafah, dilanjutkan dengan mabit di Muzdalifah dan melontar jumrah di Mina. Lontar jumrah ini merupakan simbol dari penolakan terhadap godaan setan, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim saat hendak melaksanakan perintah Allah.

Untuk umat Islam yang tidak berhaji, disunnahkan berpuasa pada hari Arafah (9 Zulhijah), yang memiliki keutamaan besar:

"Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang." (HR. Muslim)

Idul Adha membawa sejumlah pelajaran penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

  1. Tunduk pada Perintah Allah
    Idul Adha mengajarkan bahwa ketaatan kepada Tuhan harus di atas segalanya. Keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS menunjukkan betapa pentingnya meletakkan kehendak Ilahi di atas kepentingan pribadi.
    "Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, `Tunduklah!` Ibrahim menjawab, `Aku tunduk kepada Tuhan semesta alam.`" (QS. Al-Baqarah: 131)
  2. Keikhlasan dalam Beramal
    Allah tidak menilai bentuk fisik kurban, tetapi ketulusan niat di baliknya. Kurban menjadi sarana untuk melatih keikhlasan dan menjauhkan diri dari sifat riya.
    "Daging-daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37)
  3. Menguatkan Kepedulian Sosial
    Ibadah kurban juga menjadi sarana berbagi dengan sesama, khususnya kaum yang membutuhkan. Pembagian daging kurban memperkuat rasa kebersamaan dan kepedulian sosial.
  4. Menundukkan Nafsu dan Ego
    Pengorbanan dalam kurban bukan hanya menyangkut harta, tetapi juga pengendalian terhadap keinginan dan ego pribadi. Ini bagian dari proses penyucian hati.
  5. Pembersihan Diri dan Dosa
    Haji dan kurban membawa dimensi spiritual yang mendalam. Kedua ibadah ini diyakini dapat menyucikan jiwa dari dosa-dosa masa lalu jika dilakukan dengan niat yang lurus.

"Barang siapa berhaji ke Baitullah tanpa berkata kotor dan melakukan kefasikan, maka ia kembali seperti hari saat ia dilahirkan oleh ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim)