Ilustrasi Hewan Qurban (Foto: Tempo)
Terasmuslim.com - Hari Raya Idul Adha merupakan momen istimewa yang ditandai dengan pelaksanaan ibadah qurban. Di balik semangat menyembelih hewan qurban, muncul pertanyaan yang sering menjadi bahan diskusi di tengah umat: apakah benar hewan qurban akan menjadi tunggangan bagi orang yang berqurban di akhirat kelak?
Pertanyaan ini sering mencuat menjelang Idul Adha, termasuk menjelang perayaan tahun 2025. Banyak umat Islam yang penasaran apakah terdapat dasar dalam ajaran Islam terkait hal ini.
Topik ini sempat dibahas dalam sebuah kajian terbuka ketika seorang jamaah bertanya langsung kepada Ustadz Adi Hidayat (UAH), pendakwah yang dikenal luas karena pendekatan ilmiah dan sistematis dalam menjelaskan agama.
“Apakah benar hewan qurban bisa menjadi kendaraan kita di akhirat?” tanya seorang jamaah dalam forum tersebut dengan penuh antusias.
Dalam jawaban yang disampaikan melalui tayangan di kanal YouTube @sejuksunnahislam, dan dikutip pada Minggu (9/5/), UAH memberikan penjelasan dengan mengacu pada berbagai riwayat dan pemahaman ulama.
Menurut UAH, memang terdapat hadis yang menganjurkan agar umat Islam memilih hewan qurban terbaik. Dalam salah satu riwayat disebutkan: “Baguskan dan gemukkanlah hewan sembelihan kalian.” Hal ini, kata UAH, berkaitan dengan keutamaan amal qurban itu sendiri.
“Dalam beberapa keterangan, dijelaskan bahwa hewan qurban akan kembali kepada pemiliknya pada hari kiamat. Salah satu tafsir dari hal ini adalah bahwa pahala qurban akan menjadi sarana pertolongan di akhirat, termasuk saat melewati Shirath,” terang UAH.
Shirath adalah jembatan yang membentang diatas neraka Jahannam, yang akan dilewati seluruh manusia menuju surga. Hanya orang yang beramal saleh yang mampu melewati jembatan ini dengan selamat.
UAH menjelaskan bahwa pemahaman hewan qurban sebagai “kendaraan” di akhirat bukan berarti secara harfiah seseorang akan menunggangi hewan tersebut, melainkan sebagai simbol dari kemudahan yang diberikan Allah karena pahala dari qurban tersebut.
Semakin baik kualitas hewan yang dikurbankan dan semakin ikhlas niatnya, maka semakin besar pula pahala yang diperoleh, dan ini diyakini bisa membantu seseorang ketika melalui berbagai tahapan akhirat.
“Bukan bentuk fisiknya yang menjadi kendaraan, melainkan amal dan pahala dari qurban itu yang menjadi sebab kemudahan,” jelas UAH.
Ia juga menekankan pentingnya niat dalam berqurban. Qurban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ibadah yang memiliki dimensi spiritual dan sosial. Oleh karena itu, proses pemilihan hewan yang sehat, layak, dan sesuai syariat sangat ditekankan.
Selain mendatangkan pahala individual, qurban juga menjadi sarana berbagi kepada sesama. Daging hewan yang disembelih dibagikan kepada yang membutuhkan, memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
UAH juga mengingatkan agar umat Islam tidak meremehkan ibadah ini dengan memilih hewan sembarangan atau menjalankan prosesnya tanpa mengikuti tuntunan agama.
“Ikhlas dan sungguh-sungguh dalam berqurban adalah kunci. Allah tidak melihat besar kecilnya hewan, tetapi keikhlasan dan kesungguhan hati kita,” tambahnya.
Di akhir kajian, UAH menyampaikan bahwa berqurban dengan niat yang lurus dan upaya terbaik akan dibalas oleh Allah dengan pahala dan kemudahan, baik di dunia maupun di akhirat.
Dengan demikian, keyakinan bahwa hewan qurban akan menjadi kendaraan di akhirat memiliki makna simbolik yang kuat. Bukan dalam arti harfiah, tetapi sebagai representasi dari amalan yang mendatangkan pertolongan Allah.
Momen Idul Adha sepatutnya dijadikan waktu untuk memperkuat niat beribadah dan meningkatkan kualitas amal, termasuk dalam hal berqurban. Karena di balik setiap tetes darah hewan yang disembelih, tersimpan nilai ketaatan dan kepedulian yang besar.