• KEISLAMAN

Jangan Khawatir, Tak Mampu Kurban Kambing? Sembelih Ayam pun Bisa Jadi Pilihan di Idul Adha 2025

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Selasa, 06/05/2025
Jangan Khawatir, Tak Mampu Kurban Kambing? Sembelih Ayam pun Bisa Jadi Pilihan di Idul Adha 2025 KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha (Foto: Screenshoot TikTok)

Terasmuslim.com - Menjelang datangnya bulan Dzulhijjah 1446 H dan perayaan Idul Adha 2025, pembahasan seputar ibadah qurban kembali ramai diperbincangkan. Sebagian umat Islam sudah mulai mempersiapkan hewan kurban, namun banyak pula yang masih terkendala biaya. Harga hewan ternak seperti kambing dan sapi yang terus merangkak naik menjadi hambatan tersendiri, terutama bagi masyarakat dengan penghasilan terbatas.

Lantas, muncul pertanyaan, apakah berkurban dengan ayam diperbolehkan dalam Islam?

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih dikenal dengan Gus Baha, pernah menyinggung soal ini dalam sebuah pengajiannya. Dengan gaya khas yang sederhana dan jenaka, Gus Baha menegaskan bahwa inti dari Idul Adha bukan semata-mata soal hewan kurban, tapi tentang semangat berbagi dan merayakan hari besar umat Islam dengan penuh syukur.

Dalam ceramahnya yang diunggah di kanal YouTube @storyngajigusbaha dan dikutip Senin (5/5), Gus Baha mengenang masa-masa sulitnya ketika masih merantau di Yogyakarta. Saat itu, karena keterbatasan ekonomi, ia tak mampu membeli kambing atau sapi, namun tetap merayakan Idul Adha dengan menyembelih ayam.

“Waktu saya di Yogya dulu, kalau Idul Adha ya potong ayam. Kalau nggak bisa, ya beli daging setengah kilo, yang penting bisa makan bareng,” kata Gus Baha sambil tersenyum.

Menurutnya, esensi hari raya kurban adalah bersyukur, makan bersama, dan mempererat tali silaturahmi. Ia bahkan mengutip hadis yang menyebutkan bahwa pada hari Idul Adha, umat Islam dilarang berpuasa karena hari tersebut adalah hari makan dan minum.

Lebih lanjut, Gus Baha juga menyampaikan bahwa dalam kondisi ekonomi sulit, menyembelih ayam pun bisa menjadi bentuk partisipasi. Ia menambahkan, "Daripada hanya diam dan merasa iri melihat panitia kurban di masjid, lebih baik menyembelih ayam di rumah dan berbagi dengan keluarga. Yang penting halal dan niatnya baik.”

Gus Baha bahkan mengutip kisah sahabat Nabi, Ibnu Abbas, yang pada suatu Idul Adha menyembelih ayam. Saat ditanya, Ibnu Abbas menegaskan bahwa ia tahu itu bukan kurban, namun ia melakukannya untuk tetap ikut merayakan hari besar tersebut.

Dalam ceramahnya, Gus Baha menyebutkan bahwa menurut Imam Al-Qurtubi, kurban ayam bisa dimaklumi dalam kondisi tertentu, walau tentu tidak menggantikan status kurban resmi. Ia menyarankan agar kurban ayam dilakukan di rumah saja, bukan dibawa ke masjid, agar tidak disalahpahami.

“Kalau kurban telur pun, itu tetap bisa jadi amal. Tapi jangan dibawa ke masjid, nanti dikira buat mainan,” ujarnya sambil tertawa.

Gus Baha juga mengangkat analogi sederhana dari hadis tentang keutamaan datang awal ke masjid untuk salat Jumat. Ia menjelaskan bahwa orang yang datang lebih awal pahalanya seperti menyembelih unta, lalu sapi, kambing, ayam, hingga telur bagi yang datang paling akhir. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, skala nilai ibadah itu fleksibel tergantung waktu, niat, dan kesungguhan.

Pesan penting dari Gus Baha adalah agar umat Islam tak berkecil hati jika belum mampu membeli hewan kurban yang besar. Justru yang terpenting adalah bagaimana semangat Idul Adha tetap hidup di tengah keterbatasan.

“Daripada hanya mengeluh atau membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik lakukan apa yang bisa. Islam itu ringan dan memudahkan, bukan mempersulit,” tutup Gus Baha.

Melalui pesan ini, diharapkan masyarakat dapat menyambut Idul Adha dengan rasa syukur dan keikhlasan, tanpa terbebani oleh tuntutan materi.