• KEISLAMAN

Beberapa Tafsir Nusantara yang Terkenal di Indonesia

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Rabu, 22/01/2025
Beberapa Tafsir Nusantara yang Terkenal di Indonesia Ilustrasi Tafsir Al-Misbah (Foto: Bukukita)

Terasmuslim.com - Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki tradisi keilmuan Islam yang kaya. Salah satu aspek penting dalam tradisi ini adalah keberadaan tafsir Al-Qur`an yang ditulis oleh ulama Nusantara. Tafsir-tafsir ini tidak hanya mencerminkan pemahaman mendalam tentang Al-Qur`an, tetapi juga relevansi lokal dalam konteks budaya dan masyarakat Indonesia. Berikut adalah beberapa tafsir Nusantara yang terkenal:

1. Tafsir Al-Ibrāz fī Ma’ānī al-Qur’ān (Tafsir Al-Azhar)

Tafsir Al-Azhar adalah karya monumental dari Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama, sastrawan, dan tokoh nasional Indonesia. Ditulis dalam bahasa Indonesia, tafsir ini menawarkan penjelasan yang mendalam namun tetap mudah dipahami oleh masyarakat awam. Buya Hamka menggabungkan pendekatan klasik dan modern, serta menyisipkan nilai-nilai budaya dan konteks sosial Indonesia.

Tafsir ini awalnya disusun berdasarkan ceramah-ceramah Buya Hamka di Masjid Al-Azhar, Jakarta, dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Karya ini tetap relevan hingga saat ini karena mampu menjembatani antara teks suci dan realitas kehidupan modern.

2. Tafsir Al-Misbah

Tafsir Al-Misbah merupakan karya Prof. Dr. Quraish Shihab, seorang cendekiawan Muslim dan mantan Menteri Agama RI. Tafsir ini dikenal karena gaya penulisannya yang sistematis dan komprehensif, dengan penekanan pada makna ayat secara tematik.

Quraish Shihab menggunakan pendekatan kontekstual yang memungkinkan pembaca memahami Al-Qur`an sesuai dengan kebutuhan zaman. Tafsir ini juga banyak digunakan sebagai referensi dalam kajian Islam di berbagai lembaga pendidikan dan pengajian di Indonesia.

3. Tafsir Tarjuman al-Mustafid

Karya ini dianggap sebagai tafsir Al-Qur`an pertama yang ditulis di Nusantara. Disusun oleh Abdurrauf As-Singkili, seorang ulama asal Aceh pada abad ke-17, tafsir ini ditulis dalam bahasa Melayu dengan menggunakan aksara Jawi.

Tafsir Tarjuman al-Mustafid adalah hasil adaptasi dari Tafsir al-Jalalain, namun dengan penyesuaian konteks lokal. Karya ini menunjukkan bagaimana ulama Nusantara pada masa itu berupaya menjelaskan Al-Qur`an kepada masyarakat Melayu yang baru mengenal Islam.

4. Tafsir An-Nur

Disusun oleh Prof. Dr. Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir An-Nur adalah salah satu tafsir penting dalam tradisi Nusantara. Ditulis dalam bahasa Indonesia, tafsir ini menekankan pada kemudahan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur`an tanpa mengesampingkan kajian mendalam tentang bahasa, hukum, dan sejarah.

Hasbi Ash-Shiddieqy juga dikenal sebagai salah satu pelopor gerakan pembaruan Islam di Indonesia, dan tafsir ini mencerminkan semangat tersebut dengan pendekatan yang modern dan relevan bagi umat Islam Indonesia.

5. Tafsir Marah Labid

Tafsir ini adalah karya Syekh Nawawi al-Bantani, seorang ulama besar asal Banten yang menjadi salah satu pengajar di Masjidil Haram, Makkah. Tafsir Marah Labid, yang juga dikenal sebagai Tafsir Nawawi, ditulis dalam bahasa Arab dan menggunakan pendekatan klasik.

Meskipun ditulis dalam bahasa Arab, tafsir ini sangat berpengaruh di kalangan pesantren tradisional di Indonesia. Syekh Nawawi mengupas ayat-ayat Al-Qur`an dengan detail, disertai dengan penjelasan dari berbagai kitab tafsir klasik lainnya.