Ilustrasi - sedekah (Foto: Ist)
Jakarta, Terasmuslim.com - Bersedekah adalah amal mulia yang sangat dicintai Allah SWT. Melalui sedekah, seorang hamba membantu sesama, menebar manfaat, dan menumbuhkan kasih sayang di tengah masyarakat.
Namun, muncul pertanyaan yang sering membuat penasaran banyak orang: bagaimana jika seseorang rajin bersedekah, tetapi tidak melaksanakan shalat? Apakah amal sedekahnya tetap diterima dan bisa membawanya ke surga?
Pertanyaan ini tidak sederhana, karena menyentuh hubungan antara amal sosial dan kewajiban ibadah. Dalam Islam, keduanya sama pentingnya, namun memiliki kedudukan yang berbeda di sisi Allah SWT.
Shalat merupakan ibadah pokok dalam Islam yang menjadi pembeda antara seorang Muslim dan non-Muslim. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat At-Tirmidzi:
"Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat; siapa yang meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir."
(HR. At-Tirmidzi, No. 2621)
Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat bukan hanya ritual harian, tetapi bukti nyata pengakuan terhadap keesaan Allah dan bentuk ketaatan yang paling dasar. Karena itu, ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat secara sengaja termasuk dosa besar, bahkan sebagian ulama menilai pelakunya keluar dari keimanan jika menolak kewajiban shalat.
Di sisi lain, Islam sangat memuliakan orang yang bersedekah. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 261:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.”
Ayat ini menggambarkan betapa besarnya pahala bagi orang yang gemar bersedekah. Namun, amal baik seperti sedekah tidak bisa menggantikan kewajiban yang telah Allah tetapkan, termasuk shalat.
Para ulama menjelaskan bahwa amal kebaikan seperti sedekah, membantu fakir miskin, atau menolong sesama tetap bernilai pahala — tetapi tidak dapat menjadi pengganti shalat. Shalat adalah hubungan langsung antara manusia dengan Allah (hablun minallah), sementara sedekah adalah hubungan dengan sesama manusia (hablun minannas).
Jika seseorang hanya memperhatikan hubungan sosial namun mengabaikan hubungan dengan Tuhannya, maka keseimbangannya hilang. Dalam QS. Maryam: 59–60, Allah SWT memperingatkan:
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُو۟لَـٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًۭٔا
Artinya: “Maka datanglah setelah mereka pengganti (yang buruk), yang menyia-nyiakan shalat dan menuruti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh; mereka itulah yang akan masuk surga dan tidak akan dizalimi sedikit pun.”
Ayat ini menegaskan bahwa masih ada kesempatan bagi orang yang lalai dalam shalat untuk bertobat dan memperbaiki diri agar kembali ke jalan yang benar.