Ilustrasi - menikah (Foto: Unsplash/Jeremy Wong Weddings)
Jakarta, Terasmuslim.com - Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriyah yang sering dikaitkan dengan berbagai pandangan tradisional mengenai kesialan atau musibah.
Sebagian masyarakat bahkan ada yang mempercayai bahwa menikah pada bulan ini dapat membawa sial. Lalu, bagaimana pandangan Islam mengenai menikah di bulan Safar?
Islam sebagai agama yang mengajarkan keseimbangan dan kedamaian, tidak mengenal adanya ketentuan khusus mengenai bulan-bulan yang dianggap membawa sial, termasuk bulan Safar.
Dalam ajaran Islam, tidak ada bulan yang secara khusus membawa kesialan, karena segala takdir dan keberkahan hanya ditentukan oleh Allah SWT.
Tidak ada dalil yang jelas dari Al-Qur`an maupun hadis yang melarang menikah di bulan Safar. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri menikahi Aisyah RA dan banyak sahabat yang melaksanakan pernikahan pada berbagai bulan dalam kalender Hijriyah.
Pernikahan adalah ibadah yang dianjurkan dan tidak tergantung pada bulan tertentu. Dalam Islam, yang lebih penting adalah niat baik dan tujuan pernikahan itu sendiri, yang adalah untuk membina keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah (kedamaian, cinta, dan kasih sayang).
Hadis Rasulullah SAW dalam riwayat Bukhari dan Muslim mengatakan bahwa pernikahan adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda:
"Nikah itu adalah sunnahku. Barang siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan bagian dari umatku." (HR. Bukhari)
Pernikahan adalah amalan yang baik jika dilaksanakan dengan niat untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat dan membentuk keluarga yang bahagia, sejahtera, serta saling mendukung dalam kebaikan.
Islam mengajarkan bahwa setiap bulan, termasuk Safar, adalah kesempatan untuk berbuat baik. Tidak ada alasan untuk menghindari menikah pada bulan ini, karena pernikahan adalah ibadah yang sah.
Bahkan, tidak ada perintah dalam ajaran Islam yang menghubungkan bulan Safar dengan kesialan atau musibah.
Sebagian besar pandangan yang menyebutkan bulan Safar sebagai bulan yang tidak baik berasal dari budaya lokal yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Dalam kenyataannya, setiap bulan adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak amal, berdoa, dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Semua bulan adalah berkah jika diisi dengan ibadah yang baik dan niat yang tulus.