
Ilustrasi mencela orang lain
Terasmuslim.com - Fenomena gemar menghakimi dan mencari-cari kesalahan sesama manusia kini kian marak terjadi di tengah kehidupan masyarakat modern.
Banyak individu begitu mudah melayangkan vonis bersalah kepada orang lain tanpa memahami latar belakang atau kondisi spiritualnya yang utuh.
Secara psikologis dan spiritual, kecenderungan menghakimi ini sering kali berakar dari penyakit hati bernama kesombongan dan merasa paling benar.
Islam mengajarkan bahwa hak mutlak untuk menghakimi dan menilai keimanan seorang hamba hanyalah milik Allah SWT semata.
Allah SWT secara tegas melarang umat-Nya untuk saling memata-matai dan mencari-cari cela keburukan orang lain dalam Al-Qur`an.
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbakala (prasangka), karena sebagian dari purbakala itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain." (QS. Al-Hujurat: 12).
Ayat suci ini mengingatkan kita bahwa prasangka buruk sering kali menjadi pintu utama yang mendorong seseorang untuk menghakimi sesamanya.
Ketika kita fokus pada dosa orang lain, kita cenderung melupakan gunung aib dan kesalahan yang ada pada diri kita sendiri.
Rasulullah SAW juga telah memberikan sindiran yang sangat mendalam mengenai perilaku manusia yang gemar menghakimi ini melalui sebuah hadist.
"Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi lupa akan batang pohon yang ada di matanya sendiri." (HR. Ibnu Hibban).
Melalui hadist sahih tersebut, Nabi SAW mengingatkan agar setiap Muslim lebih sibuk melakukan introspeksi diri daripada menilai orang lain.
Sifat gemar menghakimi ini jika dibiarkan akan mengeraskan hati dan mengikis rasa empati serta kasih sayang antar-sesama mukmin.
Padahal, bisa jadi orang yang kita hakimi hari ini justru sedang menangis dalam tobatnya yang paling sunyi di hadapan Allah SWT.
Menghakimi sesama manusia hanya akan mendatangkan kerugian besar bagi pahala amal ibadah yang telah kita kumpulkan dengan susah payah.
Oleh karena itu, mari kita alihkan energi untuk memperbaiki diri sendiri demi meraih ridha dan ampunan-Nya yang mahaluas.
Semoga Allah SWT senantiasa membersihkan hati kita dari penyakit merasa suci dan menganugerahkan sifat tawadhu dalam kehidupan sehari-hari.