
Ilustrasi foto tauhid
Terasmuslim.com - Mengenal Allah secara utuh mengharuskan setiap Muslim memahami dua dimensi ketuhanan, yakni Rububiyyah dan Uluhiyyah.
Tauhid Rububiyyah adalah keyakinan mutlak bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta ini.
Dalam dimensi ini, kita mengakui bahwa tidak ada sebutir debu pun yang bergerak tanpa izin dan kehendak-Nya.
Al-Qur`an menegaskan konsep ini dalam Surah Az-Zumar ayat 62 yang menyatakan Allah adalah Pencipta segala sesuatu.
"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu," demikian firman-Nya yang menjadi sandaran tauhid ini.
Namun, sekadar mengakui Allah sebagai Pencipta belum cukup, karena kaum musyrik Quraisy pun meyakini hal yang sama.
Di sinilah peran Tauhid Uluhiyyah muncul sebagai konsekuensi logis dari pengakuan kita terhadap keagungan Rububiyyah Allah.
Tauhid Uluhiyyah adalah pengesaan Allah dalam segala bentuk ibadah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi di hati.
Artinya, segala bentuk doa, rasa takut, harapan, dan penyembelihan hanya boleh ditujukan secara murni kepada Allah semata.
Perintah ini termaktub jelas dalam Surah Al-Fatihah ayat 5 yang selalu kita baca, "Hanya kepada-Mu kami menyembah."
Rasulullah SAW bersabda dalam hadist riwayat Mu’adz bin Jabal bahwa hak Allah atas hamba-Nya adalah disembah tanpa disekutukan.
Memahami Rububiyyah tanpa menjalankan Uluhiyyah akan menjebak seseorang dalam pengakuan lisan tanpa amal ketaatan yang nyata.
Sebaliknya, ibadah tanpa landasan Rububiyyah yang kuat akan membuat seseorang mudah goyah saat menghadapi ujian kehidupan.
Sinkronisasi kedua sifat ini akan melahirkan ketenangan jiwa karena sadar bahwa Pengatur alam adalah satu-satunya Dzat yang disembah.
Semoga pemahaman yang lurus mengenai dua sifat ini menjaga kemurnian iman kita hingga akhir hayat nanti.
TAGS : Makna Esa Konsep Ketuhanan Allah Hak Allah