KISAH

Bilal bin Rabah, Simbol Kesetaraan dan Keteguhan Iman dalam Sejarah Islam

Yahya Sukamdani| Minggu, 19/04/2026
Kisah inspiratif Bilal bin Rabah, budak yang menjadi muazin pertama. Ilustrasi foto Bilal bin Rabah mengumandangkan azan saat peritiwa Fathu Makkah.

Terasmuslim.com - Bilal bin Rabah lahir di wilayah Al-Sarah sebagai seorang budak dari keturunan Ethiopia yang memiliki perawakan tinggi dan kulit gelap.

Ia merupakan salah satu dari golongan As-Sabiqun al-Awwalun atau orang-orang yang paling awal memeluk agama Islam di kota Makkah.

Keislamannya menyulut kemarahan majikannya, Umayyah bin Khalaf, yang kemudian menyiksa Bilal dengan sangat keji di bawah terik matahari padang pasir.

Di atas padang pasir yang membara, sebuah batu besar diletakkan di dadanya agar ia mau meninggalkan Islam dan kembali menyembah berhala.

Baca juga :

Meski raga disiksa, lisan Bilal tetap teguh menyerukan kata "Ahad, Ahad!" yang menegaskan keesaan Allah SWT di tengah tekanan hebat.

Keteguhan ini selaras dengan firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 106 mengenai mereka yang dipaksa namun hatinya tetap tenang dalam beriman.

Melihat penderitaan tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq datang untuk memerdekakan Bilal dengan harga yang sangat tinggi demi menyelamatkan nyawanya.

Setelah merdeka, Bilal menjadi sahabat setia Rasulullah SAW dan selalu mendampingi beliau dalam setiap perjuangan dakwah di Madinah.

Rasulullah SAW kemudian memilih Bilal sebagai muazin pertama dalam sejarah Islam karena suaranya yang sangat merdu dan lantang.

Jabatan muazin ini membuktikan bahwa Islam menghapus sistem kasta dan memuliakan manusia berdasarkan ketakwaannya, bukan warna kulit atau status sosial.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Rasulullah pernah bersabda bahwa beliau mendengar suara langkah sandal Bilal di surga saat peristiwa Isra Mi`raj.

Kisah ini menjadi bukti nyata dari hadits Nabi: "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan hartamu, tetapi melihat pada hati dan amalmu."

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Bilal merasa sangat sedih hingga ia tidak sanggup lagi mengumandangkan azan karena kerinduan yang mendalam.

Ia sempat meninggalkan Madinah untuk berjihad, namun kembali sekali lagi untuk mengumandangkan azan terakhir atas permintaan para sahabat yang menangis mendengarnya.

Bilal bin Rabah wafat di Damaskus dengan meninggalkan warisan abadi tentang arti kesetiaan, kesabaran, dan kemuliaan di hadapan Sang Pencipta.

TAGS : Muazin Pertama Sejarah Sahabat Keteguhan Iman Bilal

Terkini