
Ilustrasi foto Isra Miraj
Terasmuslim.com - Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan mukjizat besar yang Allah ﷻ berikan kepada Rasulullah ﷺ. Dalam peristiwa ini, Nabi ﷺ diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian dinaikkan menembus langit demi langit hingga ke Sidratul Muntaha. Fakta bahwa Nabi ﷺ diangkat ke atas menunjukkan dengan jelas bahwa Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya, bukan berada di mana-mana. Allah ﷻ berfirman: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…” (QS. Al-Isra’: 1), dan dalam ayat-ayat lain Allah menegaskan ketinggian-Nya, seperti firman-Nya: “Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi, Maha Besar” (QS. Al-Baqarah: 255).
Al-Qur’an berulang kali menegaskan sifat al-‘uluw (ketinggian) bagi Allah. Di antaranya firman Allah ﷻ: “Apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang di langit…” (QS. Al-Mulk: 16). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas makhluk-Nya, di atas langit, bukan menyatu atau berada di setiap tempat. Dalam konteks Isra’ dan Mi’raj, Nabi ﷺ tidak dipanggil ke suatu tempat di bumi, melainkan dinaikkan ke atas langit hingga mencapai tempat yang tidak bisa dicapai makhluk mana pun, sebagai bentuk pemuliaan dan penegasan ketinggian Allah.
Dalil dari Sunnah juga sangat jelas. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya kepada seorang budak perempuan, “Di mana Allah?” Ia menjawab, “Di langit.” Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Merdekakanlah dia, karena sesungguhnya ia seorang mukminah” (HR. Muslim). Hadist ini menjadi hujjah tegas bahwa keyakinan Allah berada di atas langit adalah akidah yang benar. Peristiwa Mi’raj semakin menguatkan hal ini, karena Allah berbicara langsung kepada Nabi ﷺ di atas langit dan mewajibkan shalat, ibadah paling agung dalam Islam.
Dengan demikian, pemahaman bahwa Allah “berada di mana-mana” tidak sejalan dengan dalil Al-Qur’an dan Hadist yang shahih. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa meniadakan sifat-Nya. Allah ﷻ berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syura: 11). Maka, peristiwa Isra’ dan Mi’raj menjadi dalil akidah yang agung bahwa Allah Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk, dan inilah keyakinan yang lurus sesuai petunjuk Rasulullah ﷺ dan para sahabat.