
Ilustrasi foto hukum manusia vs hukum Islam
Terasmuslim.com - Islam mengakui adanya hukum buatan manusia dalam urusan muamalah dan kemasyarakatan selama tidak bertentangan dengan syariat. Namun, persoalan menjadi sangat serius ketika hukum manusia bertentangan dengan hukum Allah lalu diyakini lebih baik, lebih adil, atau lebih layak daripada ketetapan-Nya. Allah ﷻ berfirman: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah: 50). Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada hukum yang lebih sempurna daripada hukum Allah.
Keyakinan bahwa hukum buatan manusia lebih baik dari hukum Allah bukan sekadar kesalahan pemikiran, tetapi menyentuh ranah akidah. Allah ﷻ berfirman: “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Ma’idah: 44). Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini mencakup kondisi ketika seseorang menolak, meremehkan, atau meyakini hukum selain Allah lebih unggul dari hukum-Nya, bukan sekadar pelanggaran karena hawa nafsu atau kelemahan.
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahaya berpaling dari syariat Allah dengan penuh keyakinan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya akan ada pemimpin-pemimpin yang kalian kenal dan kalian ingkari. Barang siapa membenci (kemungkaran mereka) maka ia selamat, dan barang siapa mengingkari maka ia aman, tetapi barang siapa ridha dan mengikuti, maka ia binasa” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa sikap ridha dan pembenaran terhadap penyimpangan hukum adalah perkara yang sangat berbahaya bagi iman seseorang.
Namun Islam juga menegaskan pentingnya keadilan dan hikmah dalam menyikapi realitas. Kesalahan hukum atau kebijakan tidak boleh langsung dijadikan vonis terhadap individu tanpa ilmu dan penjelasan ulama. Tugas seorang Muslim adalah meyakini kesempurnaan hukum Allah, berusaha menegakkannya sesuai kemampuan, serta menolak keyakinan bahwa hukum manusia lebih baik dari wahyu. Allah ﷻ berfirman: “Keputusan itu hanyalah milik Allah” (QS. Yusuf: 40). Ayat ini menutup dengan jelas bahwa sumber kebenaran tertinggi hanyalah Allah ﷻ.