
Ilustrasi foto indigo
Terasmuslim.com - Istilah anak indigo populer untuk menyebut anak yang dianggap memiliki kepekaan khusus, intuisi kuat, atau kemampuan melihat hal ghaib dan mistis. Dalam pandangan Islam, perkara ghaib adalah wilayah eksklusif Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.” (QS. Al-An‘am: 59). Ayat ini menjadi landasan bahwa manusiasiapa pun dia tidak memiliki kemampuan mengetahui perkara ghaib secara mandiri.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan batas tegas antara manusia dan perkara ghaib. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ bersabda bahwa siapa pun yang mengaku mengetahui perkara ghaib berarti telah berdusta. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ sendiri tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang Allah wahyukan. Ini menunjukkan bahwa klaim anak indigo yang “tahu masa depan” atau “melihat makhluk ghaib” tidak memiliki dasar dalam akidah Islam.
Dalam Islam, pengalaman melihat sesuatu yang tidak kasat mata bisa memiliki banyak penjelasan, bukan langsung dimaknai sebagai keistimewaan spiritual. Bisa jadi itu adalah bisikan jin, halusinasi, atau khayalan yang dipengaruhi kondisi psikologis. Al-Qur’an mengingatkan tentang jin yang dapat membisikkan sesuatu kepada manusia (QS. An-Nas), sehingga umat Islam diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dan tidak mudah mempercayai pengalaman yang tidak terukur oleh syariat.
Secara medis dan psikologis, banyak fenomena yang dilekatkan pada anak indigo dapat dijelaskan secara ilmiah. Anak dengan imajinasi tinggi, kepekaan emosional kuat, atau kondisi tertentu seperti highly sensitive person (HSP), gangguan kecemasan, atau spektrum neurodiversitas, sering kali mengalami persepsi yang berbeda dari anak lain. Psikologi modern menilai pengalaman “melihat” atau “merasakan kehadiran” bisa berasal dari proses kognitif otak, stres, trauma, atau sugesti lingkungan.
Kesimpulannya, Islam tidak mengenal konsep anak indigo yang memiliki kemampuan mengetahui hal ghaib. Yang ada adalah anak-anak dengan karakter dan kepekaan berbeda yang perlu dibimbing dengan iman, ilmu, dan kasih sayang. Orang tua dianjurkan memperkuat tauhid anak, membiasakan doa dan dzikir, serta berkonsultasi dengan tenaga medis atau psikolog bila anak menunjukkan pengalaman yang mengganggu. Dengan pendekatan iman dan ilmu, fenomena ini dapat disikapi secara bijak tanpa menumbuhkan ketakutan atau kesyirikan.