
Ilustrasi foto menerima rezeki,takdir dan kematian
Terasmuslim.com - Dalam akidah Islam, Lauh Mahfudz adalah tempat dicatatnya seluruh ketetapan Allah tentang makhluk-Nya, baik yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi hingga hari kiamat. Allah SWT berfirman: “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur’an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauh Mahfudz” (QS. Al-Buruj: 21–22). Ayat ini menunjukkan bahwa Lauh Mahfudz merupakan bagian dari sistem ketetapan Allah yang terjaga dan tidak berubah oleh siapa pun.
Keyakinan terhadap adanya Lauh Mahfudz berkaitan erat dengan rukun iman kepada qadha dan qadar. Allah SWT menegaskan: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)” (QS. Al-Qamar: 49). Tidak ada satu pun kejadian, sekecil apa pun, yang luput dari catatan Allah, baik berupa rezeki, ajal, kebahagiaan, maupun musibah yang menimpa manusia.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa penulisan takdir telah terjadi jauh sebelum penciptaan langit dan bumi. Beliau bersabda: “Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi” (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa segala ketetapan Allah bersifat sempurna dan berdasarkan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu.
Meyakini bahwa semua takdir tersimpan di Lauh Mahfudz menumbuhkan ketenangan hati dan sikap tawakal dalam menjalani hidup. Seorang Muslim diperintahkan untuk berusaha dan berdoa, namun tetap ridha terhadap hasil yang Allah tetapkan. Keyakinan ini menjauhkan seseorang dari keputusasaan saat tertimpa musibah dan dari kesombongan saat mendapatkan nikmat, karena semuanya telah ditetapkan dengan hikmah terbaik oleh Allah SWT.
TAGS : Lauh Mahfudz dalam Islam iman kepada takdir