Ilustrasi halal haram dalam Islam
Terasmuslim.com - Islam memandang makanan bukan sekadar bahan bakar biologis bagi tubuh, melainkan elemen spiritual yang membentuk karakter dan kualitas keimanan seseorang.
Apa yang masuk ke dalam tubuh seorang mukmin akan sangat mempengaruhi kejernihan hati, terkabulnya doa, serta dorongan untuk beramal saleh.
Allah subhanahu wata’ala secara tegas memerintahkan umat Islam untuk selektif dalam memilih apa yang mereka konsumsi sehari-hari.
Perintah ini termaktub jelas dalam Surah Al-Baqarah ayat 168, di mana Allah menyeru manusia untuk memakan yang halal lagi baik dari apa yang ada di bumi.
Kata "halal" menjamin keabsahan hukum makanan tersebut secara syariat, sementara kata "thoyyib" memastikan kandungan gizi, kebersihan, dan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental.
Ketika seseorang menjaga asupannya dari unsur yang haram, Allah akan menjaga hatinya tetap condong kepada kebaikan dan ketaatan.
Sebaliknya, mengonsumsi makanan yang didapat dari sumber haram dapat menjadi hijab atau penghalang diterimanya amal ibadah dan doa seorang hamba.
Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis sahih riwayat Muslim, di mana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menceritakan kisah seorang musafir yang makan dan minum dari yang haram sehingga doanya tertolak.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengingatkan bahwa seseorang yang makan dari sumber haram akan sangat sulit doanya dikabulkan oleh Allah subhanahu wata`ala.
Para ulama salaf sering kali mengingatkan bahwa darah dan daging yang tumbuh dari makanan haram lebih layak mendapatkan azab Allah.
Dalam Surah Al-Ma`idah ayat 88, Allah kembali menegaskan agar hamba-hamba-Nya memakan rezeki yang halal lagi baik serta bertakwa kepada-Nya.
Hubungan antara iman dan makanan juga nampak jelas dalam ibadah puasa, di mana seorang mukmin menahan diri dari makanan halal demi melatih ketakwaan.
Ketika nafsu makan yang mubah saja mampu dikendalikan karena iman, maka kontrol terhadap makanan syubhat dan haram tentu menjadi jauh lebih ketat.
Oleh karena itu, kesadaran menjaga prinsip halalan thoyyiban merupakan cerminan nyata dari keimanan yang kokoh di dalam dada setiap muslim.
Mari kita jadikan setiap suapan makanan di meja makan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat fondasi iman kita.