• KEISLAMAN

Mana Amalan Berdalil dan Diperselisihkan Nisfu Syaban?

Yahya Sukamdani | Kamis, 13/08/2026
Mana Amalan Berdalil dan Diperselisihkan Nisfu Syaban? Ilustrasi ibadah sunnah di malam Nisfu Syaban (Foto: Unsplash/Visual Karsa)

Terasmuslim.com - Malam Nisfu Sya`ban kerap disambut dengan berbagai bentuk peribadatan oleh umat Islam di berbagai penjuru belahan dunia.

Secara umum, mayoritas ulama mengakui adanya keutamaan umum malam pertengahan bulan Sya`ban tersebut.

Landasan utamanya merujuk pada hadis riwayat HR. Ibnu Majah tentang pengampunan Allah bagi hamba-Nya kecuali yang syirik atau bermusuhan.

Adapun amalan yang jelas berdalil shahih adalah memperbanyak ibadah secara umum, seperti beristigfar dan memohon ampunan dosa.

Anjuran memperbanyak istigfar dan zikir ini selaras dengan ajaran Al-Qur`an Surah Al-Ahzab ayat 41 untuk senantiasa mengingat Allah.

Selain itu, puasa sunnah pada siang harinya memiliki landasan kuat berdasarkan kebiasaan Nabi SAW memperbanyak puasa di bulan Sya`ban.

Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat HR. Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah SAW paling banyak berpuasa sunnah pada bulan Sya`ban.

Sementara itu, terdapat beberapa amalan spesifik pada malam Nisfu Sya`ban yang kedudukan dalilnya diperselisihkan oleh para ulama.

Salah satunya adalah tata cara pelaksanaan shalat khusus Nisfu Sya`ban sebanyak seratus rakaat yang dinilai hadisnya sangat lemah atau palsu.

Praktik pengkhususan membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali setelah Maghrib juga menjadi bagian dari amalan yang diperselisihkan.

Sebagian ulama memperbolehkan tradisi membaca Surah Yasin tersebut atas dasar ijtihad dan fadhailul a`mal tanpa meyakininya sebagai sunnah ketat.

Namun, ulama lain mengingatkan agar tidak mengkhususkan tata cara ibadah tertentu jika tidak dicontohkan secara eksplisit oleh Nabi SAW.

Mengenai doa, beriman kepada ketetapan Allah dianjurkan berdasarkan ayat Al-Qur`an Surah Ar-Ra`d ayat 39 tentang penghapusan dan penulisan takdir.

Pendekatan terbaik bagi seorang Muslim adalah menghidupkan malam tersebut dengan shalat malam mandiri, doa, serta zikir mutlak.

Kesimpulannya, fokuslah pada amalan yang berdalil jelas sambil tetap menyikapi perbedaan pendapat ijtihad ulama secara bijaksana.