• KEISLAMAN

Jebakan Gaya Hidup "Punya Segalanya", Mengapa Takasur Bisa Mematikan Hati?

Yahya Sukamdani | Jum'at, 01/05/2026
Jebakan Gaya Hidup "Punya Segalanya", Mengapa Takasur Bisa Mematikan Hati? Ilustrasi foto jalan dunia dan surga

Terasmuslim.com - Fenomena modernitas saat ini seolah memaksa setiap individu untuk terus berlomba memiliki segalanya demi sebuah validasi sosial.

Dunia digital memperparah keadaan dengan menampilkan standar kebahagiaan semu yang diukur hanya dari kemewahan materi dan pencapaian fisik.

Tanpa sadar, banyak umat terjebak dalam perlombaan tak berujung yang dalam istilah Al-Qur`an disebut sebagai At-Takasur.

Allah SWT telah memperingatkan bahaya ini dalam QS. At-Takasur ayat 1: "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu," sebagai teguran bagi jiwa yang ambisius.

Obsesi untuk mengumpulkan harta dan tahta seringkali membuat seseorang lupa akan batas halal dan haram dalam setiap langkahnya.

Rasulullah SAW juga mengkhawatirkan penyakit Wahn, yaitu cinta dunia yang berlebihan dan ketakutan yang luar biasa terhadap kematian.

Beliau bersabda bahwa kekayaan yang hakiki bukanlah banyaknya harta benda, melainkan kekayaan jiwa yang merasa cukup dengan pemberian-Nya.

Cita-cita menjadi "manusia yang punya segalanya" seringkali hanyalah fatamorgana yang tidak akan pernah memberikan rasa puas di hati.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah mengingatkan bahwa jika anak Adam diberi satu lembah emas, ia pasti akan mencari lembah yang kedua.

Al-Qur`an mengingatkan kita dalam QS. Al-Hadid ayat 20 bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya dan permainan belaka.

Lomba mengejar dunia ini seringkali membuat hak-hak ibadah terabaikan dan hubungan silaturahmi menjadi renggang karena persaingan.

Seorang mukmin yang cerdas seharusnya berlomba-lomba dalam kebaikan (fabaqul khairat) sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 148.

Memiliki segalanya di dunia tidak dilarang, asalkan harta tersebut berada di tangan, bukan menetap dan merajai singgasana hati.

Sifat qana’ah atau merasa cukup adalah benteng utama agar kita tidak terseret dalam arus hedonisme yang merusak nilai-nilai spiritual.

Mari kita ubah orientasi hidup dari sekadar "memiliki segalanya" menjadi "memberikan manfaat bagi sesama" demi meraih rida Ilahi.

TERKINI