Ilustrasi foto teguh diatas Iman
Terasmuslim.com - Menghadapi badai ujian hidup yang terasa begitu menyesakkan dada seringkali membuat seseorang merasa berada di titik nadir.
Namun, dalam pandangan Islam, memohon agar nyawa segera dicabut karena merasa tidak kuat memikul beban dunia adalah tindakan yang dilarang.
Rasulullah SAW secara tegas melarang umatnya untuk mengharapkan kematian hanya karena kemalangan atau penderitaan fisik dan batin yang menimpa.
Larangan ini didasari pada prinsip bahwa setiap detik kehidupan bagi seorang Mukmin adalah kesempatan emas untuk menambah amal saleh atau bertaubat.
Sebuah hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian karena musibah yang dialaminya.
Keinginan untuk wafat saat tertimpa ujian seringkali merupakan bisikan keputusasaan yang justru menjauhkan hamba dari rahmat Allah SWT yang maha luas.
Al-Qur`an mengingatkan manusia dalam Surat Yusuf ayat 87 bahwa sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.
Ujian hidup sejatinya adalah mekanisme penggugur dosa dan sarana pengangkatan derajat bagi mereka yang mampu menyikapinya dengan kacamata kesabaran.
Jika keadaan terasa sangat mendesak dan beban terasa tidak tertanggungkan, Rasulullah SAW memberikan tuntunan doa yang jauh lebih bijaksana dan mulia.
Beliau mengajarkan kita untuk berdoa agar Allah menghidupkan kita selama kehidupan itu baik, dan mewafatkan kita jika kematian itu lebih baik.
Redaksi doa ini menyerahkan segala keputusan terbaik kepada Allah SWT sebagai Dzat yang paling mengetahui apa yang tersimpan di balik masa depan.
Islam mengajarkan bahwa setiap kesulitan pasti dibarengi dengan kemudahan, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Insyirah yang menjadi penghibur hati yang lara.
Maka, daripada meminta kematian, lebih utama bagi seorang Muslim untuk memohon kekuatan, kesabaran, dan kelapangan hati dalam melewati masa-masa sulit tersebut.
Mengalihkan energi kesedihan menjadi untaian doa dan dzikir akan memberikan ketenangan jiwa yang jauh lebih abadi daripada sekadar melarikan diri dari ujian.
Percayalah bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan batas kemampuannya, sehingga setiap ujian pasti memiliki jalan keluar yang indah.