Ilustrasi foto berbicara saat makan
Terasmuslim.com - Banyak anggapan di tengah masyarakat bahwa berbicara saat makan adalah perbuatan yang dilarang atau dianggap tidak sopan. Namun, jika merujuk pada literatur fikih, Islam justru memandang aktivitas berbincang ringan saat makan sebagai sebuah kebaikan. Rasulullah SAW sering kali memanfaatkan momen makan bersama untuk memberikan pengajaran serta mempererat tali persaudaraan antar-sahabat.
Dalil utama mengenai kesunnahan ini merujuk pada hadis riwayat Imam Muslim tentang pujian Nabi terhadap lauk cuka. Saat itu, Rasulullah SAW bertanya kepada keluarganya tentang lauk, lalu beliau memuji cuka sambil terus bercakap-cakap. Tindakan ini menjadi hujah bagi para ulama bahwa mendiamkan meja makan tanpa pembicaraan justru menyerupai kebiasaan kaum ajam.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa berbicara mengenai hal-hal baik saat makan hukumnya adalah mustahab atau disenangi. Beliau menjelaskan bahwa suasana makan yang hangat dapat menghidupkan rasa syukur atas nikmat pangan yang telah Allah berikan. Hal ini tentu berbeda dengan berbicara dalam kondisi mulut penuh yang justru melanggar etika kesehatan dan kebersihan.
Al-Qur`an secara tersirat memerintahkan manusia untuk menikmati rezeki yang tayyib dengan penuh kegembiraan sebagaimana dalam Surah Al-Ma`idah. Kegembiraan tersebut dapat diwujudkan melalui interaksi sosial yang positif antar sesama anggota keluarga atau kerabat di meja makan. Komunikasi yang baik saat bersantap akan menciptakan ikatan emosional yang kuat sekaligus menjadi sarana dakwah yang santun.
Meski demikian, syariat tetap memberikan batasan agar pembicaraan yang dilakukan tidak mengandung unsur ghibah, dusta, atau maksiat. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu berkata baik atau lebih baik diam jika tidak mampu menjaga lisan. Maka, pilihlah topik yang ringan, memotivasi, dan penuh doa agar keberkahan makanan tersebut meresap ke dalam jiwa.
Kesimpulannya, berbicara saat makan bukan sekadar kebiasaan, melainkan sunnah yang berfungsi untuk membedakan identitas muslim dengan tradisi lainnya. Dengan menghidupkan percakapan yang penuh hikmah, meja makan berubah menjadi madrasah mini bagi keluarga muslim di rumah. Mari kita teladani adab nabawi ini demi meraih kesempurnaan ibadah dalam setiap aktivitas keseharian kita.