Ilustrasi foto tauhid
Terasmuslim.com - Kesyirikan tidak selalu bermula dari kebencian terhadap agama, melainkan dari niat yang tampak baik. Banyak manusia terjatuh dalam kesalahan justru karena rasa cinta dan penghormatan kepada orang-orang shalih. Namun ketika rasa itu melampaui batas, ia berubah menjadi ghuluw yang berbahaya.
Dalam Islam, mencintai orang shalih adalah bagian dari iman. Akan tetapi, syariat memberikan batasan tegas agar kecintaan itu tidak mengarah pada pengagungan yang berlebihan. Allah SWT melarang segala bentuk penyekutuan, sekecil apa pun bentuknya.
Sejarah umat terdahulu memberikan pelajaran penting tentang hal ini. Kaum Nabi Nuh Alaihissalam awalnya hanya menghormati orang-orang shalih seperti Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Namun seiring waktu, penghormatan itu berubah menjadi penyembahan.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan kisah tersebut sebagai peringatan bagi umat manusia. Ini menunjukkan bahwa kesyirikan bisa berkembang secara perlahan tanpa disadari. Berawal dari simbol penghormatan, kemudian menjadi ritual yang menyimpang.
Rasulullah SAW juga telah memperingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam memuji beliau. Beliau bersabda agar tidak dipuji seperti kaum Nasrani memuji Nabi Isa Alaihissalam. Hal ini menunjukkan bahwa ghuluw adalah pintu yang bisa menyeret kepada kesyirikan.
Oleh karena itu, Islam menekankan keseimbangan antara cinta dan tauhid. Menghormati ulama dan orang shalih adalah kebaikan, tetapi tidak boleh sampai meminta kepada mereka selain kepada Allah. Semua bentuk ibadah hanya ditujukan kepada Allah semata.
Kesimpulannya, ghuluw adalah bahaya laten yang sering tidak disadari. Seorang Muslim harus selalu menimbang amalnya dengan dalil Al-Qur’an dan hadits. Dengan menjaga tauhid dan menjauhi sikap berlebihan, keselamatan iman akan tetap terjaga.