Ilustrasi seorang ibu bersedih (foto:islampos)
Terasmuslim.com - Dalam Islam, kesedihan adalah fitrah manusia yang tidak dapat dihindari. Namun, agama mengajarkan agar tidak berlebihan dalam mengekspresikan duka. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155–156: “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali).’” Ayat ini menegaskan bahwa musibah adalah ujian, dan respon terbaik adalah kesabaran, bukan tangisan berlebihan.
Rasulullah SAW pun melarang sikap berlebihan dalam berduka. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyah.” Larangan ini menunjukkan bahwa kesedihan tidak boleh membuat seseorang kehilangan kendali dan melanggar adab Islam. Menangis karena kehilangan orang tercinta boleh, selama tidak disertai ratapan dan keluh kesah yang berlebihan.
Berduka secara wajar justru menunjukkan kelembutan hati dan kasih sayang. Rasulullah SAW sendiri menangis ketika putranya, Ibrahim, meninggal dunia. Namun beliau tetap berkata, “Sesungguhnya mata ini meneteskan air mata, dan hati ini bersedih, tetapi kami tidak akan mengatakan kecuali yang diridhai oleh Allah.” (HR. Bukhari). Dari hadits ini, umat Islam diajarkan untuk mengelola kesedihan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan kepada takdir Allah.