• KEISLAMAN

Terjebak Riya Digital, Bahaya Laten di Balik Konten dan Pencitraan

Yahya Sukamdani | Senin, 18/05/2026
Terjebak Riya Digital, Bahaya Laten di Balik Konten dan Pencitraan Ilustrasi foto pamer kebaikan di social media

Terasmuslim.com - Kehadiran media sosial kini telah mengubah lanskap interaksi manusia, di mana panggung pencitraan menjadi hal yang dinilai lumrah.

Setiap hari kita disuguhi kompetisi konten untuk menampilkan amal ibadah, sedekah, hingga pencapaian hidup demi mendulang kekaguman.

Namun, di balik riuhnya tepuk tangan netizen, ada bahaya laten yang siap menerkam kesucian niat seorang Muslim, yaitu penyakit riya.

Riya secara sederhana adalah melakukan suatu amalan atau kebaikan bukan karena Allah, melainkan demi mendapatkan pujian manusia.

Di era digital, batas antara syiar agama dan pamer ibadah menjadi sangat tipis sehingga menuntut kita untuk selalu mawas diri.

Islam memandang riya sebagai penyakit hati yang sangat merusak karena ia dapat menghapus seluruh pahala kebaikan secara instan.

Peringatan keras mengenai perilaku pamer ini telah diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur`an Surah Al-Baqarah ayat 264.

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 264).

Ayat tersebut menjadi tamparan visual bahwa amal yang dicampuri riya ibarat debu di atas batu licin yang hilang tak berbekas saat ditiup angin.

Bukan hanya menghapus pahala, riya juga termasuk dalam kategori syirik kecil (syirik khafi) yang sangat ditakuti oleh Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda bahwa hal yang paling beliau takuti menimpa umatnya adalah syirik kecil, yaitu riya.

Kelak di hari kiamat, Allah SWT akan menyuruh orang-orang yang riya untuk mencari pahala mereka kepada manusia yang dulu mereka pameri di dunia.

Tentu kita tidak ingin lelahnya membuat konten kebaikan justru berujung pada kebangkrutan spiritual di hadapan Mahkamah Ilahi.

Oleh karena itu, sebelum menekan tombol upload atau share, luangkan waktu sejenak untuk menata kembali niat terdalam di dalam hati.

Sembunyikanlah sebagian amal kebaikanmu sebagaimana kamu menyembunyikan aib-aibmu dari pandangan khalayak ramai di dunia maya.

Mari kita jaga hati dari candu pujian digital dan kembalikan orientasi hidup hanya untuk mencari rida Allah semata.