Ilustrasi foto belajar agama
Terasmuslim.com - Banyak orang merasa aman ketika berada di tengah kerumunan yang ramai, seolah-olah jika banyak yang mengikuti, berarti sesuatu itu benar. Pola pikir ini sering muncul dalam kehidupan sosial maupun keagamaan. Padahal, dalam urusan iman dan akidah, jumlah pengikut sama sekali bukan ukuran kebenaran. Islam menekankan bahwa yang menentukan benar atau salah adalah dalil, bukan popularitas.
Allah SWT menegaskan prinsip ini dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kalian mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (QS. Al-Isra: 36). Ayat ini menjadi pengingat agar umat Muslim selalu menimbang setiap ajaran atau praktik dengan ilmu dan bukti, bukan sekadar ikut-ikutan kelompok mayoritas. Kebenaran yang bersandar pada jumlah justru rawan menyesatkan.
Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya menilai sesuatu berdasarkan dalil. Beliau bersabda: “Janganlah kalian percaya kepada suatu perkara hanya karena banyak orang melakukannya” (makna hadits riwayat Ahmad, secara konseptual). Hadits ini menegaskan bahwa ketaatan dan keyakinan harus bersumber dari ilmu, pemahaman syariat, dan niat ikhlas, bukan sekadar tekanan sosial atau popularitas.
Para ulama menjelaskan bahwa mengikuti kerumunan tanpa pertimbangan dalil sering menjerumuskan umat pada kesesatan. Banyak sejarah yang menunjukkan bagaimana kelompok besar bisa terjerumus ke dalam kesalahan ketika mereka hanya mencontoh mayoritas tanpa menimbang hukum dan prinsip syariat. Oleh karena itu, pendidikan agama dan literasi dalil menjadi sangat penting bagi setiap Muslim.
Kesimpulannya, kebenaran iman tidak dapat diukur dari jumlah orang yang mengikutinya. Umat Islam dianjurkan menilai setiap praktik dan keyakinan dengan dalil yang jelas dari Al-Qur’an, hadits, dan ijtihad ulama yang shahih. Dengan cara ini, keimanan menjadi kokoh, tidak mudah tergoyahkan oleh opini mayoritas, dan selalu selaras dengan tuntunan Allah SWT.