• KEISLAMAN

Inilah Orang yang Paling Patut Dikasihani Menurut Al-Qur`an dan Sunnah

Yahya Sukamdani | Selasa, 24/02/2026
Inilah Orang yang Paling Patut Dikasihani Menurut Al-Qur`an dan Sunnah Ilustrasi foto ke masjid

Terasmuslim.com - Dalam pandangan Islam, orang yang patut dikasihani bukanlah semata mereka yang kekurangan harta. Ukuran kemuliaan dan kebahagiaan tidak ditentukan oleh dunia, melainkan oleh iman dan amal. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang merugi adalah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.” (QS. Az-Zumar: 15). Kerugian terbesar bukan kehilangan materi, tetapi kehilangan keselamatan akhirat.

Rasulullah SAW juga menjelaskan siapa sebenarnya orang yang bangkrut dan patut dikasihani. Dalam hadits riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa orang bangkrut adalah yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia pernah mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, hingga menyakiti sesama. Akhirnya pahala-pahalanya habis untuk membayar kezalimannya. Inilah gambaran orang yang tampak beramal, tetapi rugi karena buruk akhlaknya.

Orang yang jauh dari Al-Qur’an juga patut dikasihani. Allah menyebut dalam QS. Thaha: 124, “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.” Kehidupan sempit bukan selalu miskin secara materi, tetapi hati yang gelisah, tidak tenang, dan kehilangan arah. Banyak manusia bergelimang harta, namun jiwanya kosong karena jauh dari petunjuk Allah.

Selain itu, orang yang lalai dari mengingat Allah termasuk golongan yang patut mendapat iba. Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 19 agar kita tidak seperti orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Lupa hakikat hidup, lupa tujuan akhirat, dan akhirnya terjebak dalam kesia-siaan dunia yang sementara.

Orang yang menunda taubat juga termasuk yang patut dikasihani. Setiap hari umur berkurang, namun dosa terus bertambah tanpa penyesalan. Padahal pintu taubat masih terbuka selama nyawa belum di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat. Betapa ruginya mereka yang menyia-nyiakan kesempatan kembali kepada Allah, sementara kematian bisa datang kapan saja.

Pada akhirnya, orang yang paling patut dikasihani adalah mereka yang miskin iman, rusak akhlaknya, dan lalai terhadap akhirat. Islam mengajarkan kita bukan untuk meremehkan, tetapi untuk mendoakan dan mengingatkan. Karena ukuran kebahagiaan sejati bukan pada banyaknya harta, melainkan pada keselamatan di hadapan Allah ﷻ kelak.