Ilustrasi - mengenal tokoh paling berpengaruh dalam Islam, khusus di bidang kedokteran, Ibn Sina (Foto: khazanahrepublika)
Jakarta, Terasmuslim.com - Nama Ibn Sina tercatat dalam sejarah sebagai salah satu ilmuwan terbesar peradaban Islam. Di Barat ia dikenal sebagai Avicenna, seorang dokter, filsuf, dan penulis ensiklopedis yang pengaruhnya melampaui zamannya.
Berbagai catatan sejarah Islam klasik, termasuk biografi yang ditulis muridnya al-Juzjani yang menggambarkan kehidupannya sebagai perjalanan seorang anak ajaib yang tumbuh menjadi ilmuwan dunia.
bnu Sina lahir sekitar tahun 980 M di Afsyanah dekat Bukhara (sekarang Uzbekistan). Ayahnya seorang pejabat administrasi pemerintahan Dinasti Samaniyah yang juga mencintai ilmu pengetahuan. Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan terbaik.
Catatan sejarah menyebutkan, sebelum usia 10 tahun ia telah menghafal Al-Qur’an. Ia kemudian mempelajari matematika, logika, filsafat, astronomi, dan kedokteran.
Dalam autobiografinya, Ibnu Sina menuturkan bahwa ia mempelajari karya filsuf Yunani Aristoteles berulang-ulang hingga puluhan kali sampai benar-benar memahaminya.
Kemampuannya berkembang sangat cepat. Pada usia sekitar 16 tahun, ia sudah mulai mengobati pasien.
Nama Ibnu Sina mulai terkenal setelah ia berhasil menyembuhkan penguasa Bukhara yang sakit keras dan tidak dapat ditangani tabib istana. Sebagai imbalan, ia diizinkan mengakses perpustakaan kerajaan yang sangat besar.
Perpustakaan tersebut menjadi titik penting dalam hidupnya. Di sanalah ia membaca ratusan naskah ilmu pengetahuan kuno Yunani, Persia, dan India. Pengalaman itu membentuknya sebagai ilmuwan serba bisa. Ia kemudian diangkat menjadi dokter istana dan mulai menulis buku-buku ilmiah.
Kehidupan Ibnu Sina tidak selalu tenang. Runtuhnya Dinasti Samaniyah membuatnya harus berpindah-pindah kota — dari Bukhara, Khwarazm, Rayy, hingga Hamadan dan Isfahan. Selain menjadi dokter, ia juga pernah menjabat pejabat pemerintahan bahkan penasehat penguasa.
Di tengah situasi politik yang tidak stabil, ia tetap menulis. Banyak karyanya justru lahir saat ia bepergian atau bahkan dalam kondisi pelarian. Riwayat hidupnya menyebut ia sering menulis pada malam hari, sementara siang harinya bekerja sebagai dokter dan pejabat.
Menulis Ensiklopedia Kedokteran Dunia
Karya terbesarnya adalah Al-Qanun fi al-Tibb (Kanon Kedokteran). Buku ini merangkum teori penyakit, farmasi, diagnosis, hingga metode pengobatan secara sistematis.
Selama berabad-abad, buku tersebut menjadi rujukan utama pendidikan kedokteran di Timur Tengah dan Eropa. Universitas-universitas di Eropa menggunakan karyanya hingga abad ke-17.
Selain kedokteran, ia juga menulis tentang filsafat, psikologi, logika, dan metafisika. Total karya yang dikaitkan dengannya mencapai ratusan judul.
Ibnu Sina wafat pada 1037 M di Hamadan (Iran) dalam usia sekitar 57 tahun. Riwayat menyebutkan ia tetap mengajar dan menulis meskipun sedang sakit.
Hingga kini, warisannya masih terasa. Banyak konsep medisnya, seperti pentingnya observasi klinis, diagnosis sistematis, dan eksperimen — menjadi dasar metode ilmiah modern.