Tewrasmuslim.com - Pertanyaan tentang apakah para sahabat pernah memperingati hari lahir Rasulullah SAW kerap mengemuka setiap memasuki bulan Rabiul Awal. Secara historis, tidak terdapat riwayat sahih yang menunjukkan bahwa para sahabat secara khusus mengadakan perayaan tahunan atas kelahiran Nabi SAW. Para sahabat seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai generasi yang paling mencintai Rasulullah SAW, namun kecintaan itu diwujudkan dengan mengikuti sunnahnya, bukan dengan perayaan seremonial tahunan.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian” (QS. Ali ‘Imran: 31). Ayat ini menjadi landasan bahwa bukti cinta kepada Rasulullah SAW adalah ittiba’ (mengikuti ajaran beliau). Para sahabat memahami ayat ini secara praktis. Mereka menjaga setiap detail sunnah, meriwayatkan hadis, dan menyebarkan risalah Islam, tetapi tidak dikenal membuat peringatan khusus pada tanggal kelahiran beliau.
Namun demikian, terdapat hadis sahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sendiri memiliki bentuk penghayatan terhadap hari kelahirannya. Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa ketika ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku menerima wahyu.” Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mensyukuri hari kelahirannya dengan ibadah, bukan dengan perayaan. Puasa menjadi ekspresi syukur dan ketundukan kepada Allah SWT.
Secara sejarah, peringatan maulid dalam bentuk perayaan massal baru dikenal beberapa abad setelah wafatnya Rasulullah SAW. Sebagian sejarawan menyebut praktik ini mulai berkembang pada masa Dinasti Dinasti Fathimiyah di Mesir. Artinya, tradisi tersebut bukan berasal dari generasi sahabat maupun tabi’in. Fakta sejarah ini sering menjadi bahan diskusi di kalangan ulama mengenai status dan hukumnya.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama pun muncul. Sebagian memandang peringatan maulid sebagai bid’ah karena tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Sebagian lain membolehkannya selama diisi dengan hal-hal yang syar’i seperti shalawat, kajian sirah, dan sedekah. Dalam menyikapi perbedaan ini, umat Islam dianjurkan menjaga adab, tidak mudah menyesatkan, serta tetap berpegang pada prinsip persatuan.
Pada akhirnya, teladan terbaik dalam mencintai Rasulullah SAW adalah generasi sahabat. Mereka tidak memperingati hari lahir beliau secara khusus, tetapi hidup mereka adalah perayaan nyata atas ajaran Nabi SAW. Maka, jika ingin meneladani mereka, memperbanyak shalawat, mempelajari sirah, dan mengamalkan sunnah adalah jalan paling kokoh untuk menunjukkan cinta kepada Rasulullah SAW.