Ilustrasi foto sidang Isbat pemerintah
Terasmuslim.com - Ramadhan dan Shalat Idul Fitri bukan sekadar ritual ibadah individual, melainkan momentum besar pemersatu umat Islam. Ketika kaum muslimin berpuasa dan berhari raya secara serentak mengikuti keputusan pemerintah, tercipta suasana kebersamaan yang menenangkan dan menyejukkan. Al-Qur’an menegaskan perintah untuk menaati Allah, Rasul-Nya, dan ulil amri dalam Surah An-Nisa ayat 59, selama tidak bertentangan dengan syariat. Dalam konteks negara, keputusan pemerintah terkait penetapan Ramadhan dan Idul Fitri masuk dalam ranah kemaslahatan umum.
Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah pada hari kalian berpuasa, dan berbuka adalah pada hari kalian berbuka.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menjadi landasan kuat bahwa ibadah puasa dan hari raya hendaknya dilaksanakan secara berjamaah, mengikuti keputusan otoritas kaum muslimin. Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menekankan pentingnya persatuan dan menghindari perpecahan, khususnya dalam perkara ijtihadi seperti penentuan awal bulan hijriyah.
Di Indonesia, penetapan awal Ramadhan dan Syawal dilakukan melalui sidang isbat yang melibatkan ulama, ormas Islam, dan pakar astronomi. Proses ini mencerminkan prinsip musyawarah (syura) yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Allah memuji orang-orang yang memutuskan urusan mereka dengan musyawarah, sebagaimana disebutkan dalam Surah Asy-Syura ayat 38. Dengan mekanisme ini, keputusan pemerintah tidak bersifat sepihak, melainkan lahir dari pertimbangan ilmiah dan keagamaan.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa para sahabat Nabi sangat menjaga persatuan umat. Di masa kepemimpinan Umar bin Khattab, kebijakan publik yang menyangkut kepentingan bersama selalu diarahkan untuk mencegah perpecahan. Ketaatan kepada pemimpin dalam perkara yang membawa maslahat adalah bagian dari menjaga stabilitas umat dan menutup pintu fitnah yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah.
Shalat Idul Fitri yang dilaksanakan bersama-sama juga memiliki dampak sosial yang besar. Takbir yang dikumandangkan serentak, saf shalat yang rapat tanpa memandang status sosial, serta saling bermaafan setelah shalat adalah simbol persaudaraan Islam yang nyata. Inilah manifestasi dari firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Perbedaan waktu pelaksanaan justru berpotensi mengaburkan pesan persatuan tersebut.
Oleh karena itu, Ramadhan dan Shalat Idul Fitri bersama pemerintah adalah pilihan yang lebih mendekatkan kepada tujuan syariat, yakni menjaga persatuan dan menghindari perpecahan. Selama keputusan tersebut berlandaskan dalil dan musyawarah ulama, mengikutinya adalah sikap bijak dan dewasa dalam beragama. Di tengah tantangan umat yang semakin kompleks, persatuan kaum muslimin adalah kekuatan utama yang harus terus dijaga.