• KEISLAMAN

Sholat Dipaksa di Awal, Dijaga Sepanjang Hidup

Yahya Sukamdani | Jum'at, 06/02/2026
Sholat Dipaksa di Awal, Dijaga Sepanjang Hidup Ilustrasi rapat shaf shalat

Terasmuslim.com - Sholat merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim dan menjadi tolok ukur keimanan seseorang. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit yang merasa berat untuk menunaikannya, terutama di awal hijrah atau saat iman sedang melemah. Islam mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah sering kali harus diawali dengan paksaan terhadap diri sendiri, sebagai bentuk kesungguhan dalam menjalankan perintah-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan sholat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).

Paksaan yang dimaksud bukanlah keterpaksaan yang membenci ibadah, melainkan latihan disiplin agar sholat tidak ditinggalkan. Rasulullah SAW mencontohkan pentingnya pembiasaan ini sejak dini. Beliau bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berumur tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud). Hadits ini menunjukkan bahwa pembiasaan ibadah mendahului tumbuhnya rasa cinta, karena kebiasaan akan membentuk karakter dan iman.

Ketika sholat terus dijaga, paksaan akan berubah menjadi kebiasaan. Hati mulai merasa ada yang kurang jika sholat ditunda atau ditinggalkan. Al-Qur’an menyebut orang-orang beriman sebagai mereka yang memelihara sholatnya dengan sungguh-sungguh (QS. Al-Mu’minun: 1–2). Inilah fase di mana sholat mulai mengakar dalam kehidupan seorang Muslim.

Dari kebiasaan yang istiqamah, tumbuhlah rasa cinta. Sholat tidak lagi terasa berat, tetapi menjadi kebutuhan jiwa. Rasulullah SAW bersabda: “Dijadikan penyejuk mataku di dalam sholat.” (HR. An-Nasa’i). Hadits ini menggambarkan betapa sholat adalah sumber ketenangan bagi hati yang telah dipenuhi iman.

Saat cinta kepada sholat telah hadir, meninggalkannya walau sekali akan menghadirkan rasa bersalah dan takut kepada Allah. Perasaan ini merupakan tanda hidupnya iman dalam diri. Allah SWT memperingatkan: “Maka celakalah orang-orang yang sholat, yaitu mereka yang lalai dari sholatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5). Ayat ini mengingatkan agar sholat tidak dianggap remeh atau sekadar rutinitas kosong.

Pada akhirnya, sholat menjadi penjaga iman dan penguat hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Dari paksaan yang ikhlas, lahir kebiasaan yang istiqamah, dan dari kebiasaan tumbuh cinta yang menjaga diri dari dosa. Inilah proses spiritual yang menjadikan sholat sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban.