• KEISLAMAN

Apa Gunanya Rezeki Melimpah Jika Ia Menjadi Saksi Shalat yang Ditinggalkan?

Yahya Sukamdani | Kamis, 05/02/2026
Apa Gunanya Rezeki Melimpah Jika Ia Menjadi Saksi Shalat yang Ditinggalkan? Ilustrasi tawakal

Terasmuslim.com - Rezeki adalah karunia Allah yang agung, namun dalam Islam nilai rezeki tidak diukur dari banyaknya harta, melainkan dari ketaatan kepada Allah dalam memperolehnya. Allah menegaskan bahwa tujuan utama manusia diciptakan bukan untuk mengejar dunia semata, melainkan untuk beribadah. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ketika rezeki justru membuat seseorang lalai dari shalat, maka rezeki itu berubah dari nikmat menjadi ujian.

Shalat adalah tiang agama dan pembeda antara iman dan kekufuran. Rasulullah SAW bersabda: “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi). Kesibukan mencari nafkah tidak pernah dijadikan alasan syar’i untuk meninggalkan shalat. Bahkan, shalatlah yang seharusnya menjadi penjaga keberkahan rezeki, bukan penghalang dalam mencarinya.

Allah telah memperingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kesibukan dunia. “Maka datanglah setelah mereka pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59). Ayat ini menunjukkan bahwa kelalaian terhadap shalat adalah awal kehancuran spiritual, meskipun secara lahiriah seseorang tampak sukses dan berkecukupan.

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa seluruh harta akan dimintai pertanggungjawaban. “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang… hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi). Rezeki yang melimpah akan menjadi saksi yang memberatkan bila diperoleh dengan mengorbankan kewajiban kepada Allah, terutama shalat.

Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77). Ayat ini menegaskan bahwa dunia boleh dikejar, namun tidak boleh mengalahkan kewajiban ibadah yang menjadi tujuan hidup seorang mukmin.

Maka, pertanyaan “apa gunanya rezeki melimpah jika menjadi saksi atas shalat yang ditinggalkan?” adalah peringatan keras bagi hati yang lalai. Rezeki sejati bukan yang membuat seseorang sibuk dari Allah, tetapi yang mendekatkan kepada-Nya, menenangkan jiwa, dan mengantarkan pada keselamatan di akhirat.