• KEISLAMAN

Berpalingnya Manusia dari Ibadah

Yahya Sukamdani | Sabtu, 31/01/2026
Berpalingnya Manusia dari Ibadah Ilustrasi foto ibadah ketika safar

Terasmuslim.com - Berpalingnya manusia dari ibadah merupakan fenomena yang banyak terjadi di berbagai zaman, terutama ketika kehidupan dunia semakin melalaikan. Padahal, tujuan utama diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ketika ibadah ditinggalkan, berarti manusia telah menyimpang dari tujuan hidup yang telah ditetapkan oleh Allah.

Salah satu sebab utama berpalingnya manusia dari ibadah adalah kecintaan berlebihan terhadap dunia. Harta, jabatan, dan kesibukan sering kali membuat seseorang lalai dari shalat, zikir, dan ketaatan lainnya. Allah mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi” (QS. Al-Munafiqun: 9). Ayat ini menegaskan bahwa kesibukan duniawi dapat menjadi sebab kerugian besar jika ibadah diabaikan.

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa berpaling dari ibadah dan mengingat Allah akan membawa dampak buruk dalam kehidupan. Allah berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit” (QS. Thaha: 124). Kehidupan yang sempit ini tidak selalu berarti miskin secara materi, tetapi hati yang gelisah, tidak tenang, dan jauh dari keberkahan karena jauhnya hubungan dengan Allah.

Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa salah satu tanda kelemahan iman adalah malas dalam beribadah. Beliau bersabda, “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir” (HR. Tirmidzi dan Ahmad). Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya dampak meninggalkan ibadah, khususnya shalat, yang merupakan tiang agama.

Berpaling dari ibadah juga bisa terjadi secara perlahan, bukan langsung meninggalkan semuanya. Awalnya menunda shalat, meremehkan sunnah, lalu semakin jauh dari ketaatan. Rasulullah SAW bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara terus-menerus meskipun sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa menjaga konsistensi ibadah adalah benteng agar hati tidak menjauh dari Allah.

Oleh karena itu, setiap Muslim wajib muhasabah dan menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah. Kembali kepada Al-Qur’an, shalat, dan zikir adalah jalan untuk menghidupkan hati yang mulai lalai. Allah berfirman, “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu” (QS. Al-Baqarah: 152). Ayat ini menjadi harapan bahwa pintu taubat dan kembali kepada ibadah selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin memperbaiki diri.