• KEISLAMAN

Nasehat Tak Sampai ke Hati Jika Disampaikan dengan Celaan

Yahya Sukamdani | Kamis, 22/01/2026
Nasehat Tak Sampai ke Hati Jika Disampaikan dengan Celaan Ilustrasi foto menasehati

Terasmuslim.com - Dalam Islam, menasihati adalah amal mulia, namun cara penyampaiannya sangat menentukan apakah nasehat itu diterima atau ditolak. Nasehat yang disampaikan dengan bahasa memaksa, kasar, atau disertai celaan justru menutup pintu hati orang yang dinasihati. Allah Ta‘ala berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125). Ayat ini menegaskan bahwa hikmah dan kelembutan adalah kunci dalam dakwah dan nasehat.

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam menyampaikan kebenaran. Beliau tidak pernah menggunakan cacian dan makian dalam menasihati umatnya. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan ia akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa kelembutan menjadikan nasehat lebih mudah diterima dan berbekas di hati.

Bahkan ketika menghadapi kesalahan besar, Nabi ﷺ tetap menjaga adab dalam menegur. Beliau sering menggunakan ungkapan umum seperti: “Mengapa sebagian orang berkata demikian…” tanpa menyebut nama dan tanpa merendahkan. Al-Qur’an juga memerintahkan agar ucapan seorang muslim dijaga dari kata-kata yang menyakitkan: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’: 53).

Karena itu, orang yang menasihati hendaknya meluruskan niat dan memperbaiki cara. Tujuan nasehat adalah perbaikan, bukan pelampiasan emosi atau menunjukkan keunggulan diri. Dengan tutur kata yang lembut, penuh empati, dan doa, nasehat akan lebih mudah masuk ke dada yang lapang. Inilah akhlak dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala.