• KEISLAMAN

Ulama Didatangi, Bukan Mendatangi: Menjaga Wibawa Ilmu dan Adab Menuntut Agama

Yahya Sukamdani | Sabtu, 03/01/2026
Ulama Didatangi, Bukan Mendatangi: Menjaga Wibawa Ilmu dan Adab Menuntut Agama Ilustrasi ulama dan jamaah

Terasmuslim.com - Dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi, dan para ulama adalah pewaris para nabi. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud). Karena kemuliaan ini, para salaf mengajarkan bahwa penuntut ilmu mendatangi ulama, bukan sebaliknya, sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu agar tidak direndahkan oleh kepentingan dunia.

Al-Qur’an menegaskan perbedaan derajat antara orang berilmu dan yang tidak. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9). Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu menuntut kesungguhan, kerendahan hati, dan pengorbanan. Mendatangi ulama meski harus menempuh jarak dan kesulitan merupakan bagian dari adab yang melahirkan keberkahan ilmu.

Para sahabat dan ulama salaf memberikan teladan nyata dalam hal ini. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu menempuh perjalanan berhari-hari hanya untuk mendengar satu hadis dari Abdullah bin Unais. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Perjalanan mendatangi ulama menjadi simbol kesungguhan dan keikhlasan dalam menuntut ilmu.

Namun, kaidah “ulama didatangi” bukan berarti ulama dilarang berdakwah atau mengajar umat. Rasulullah ﷺ sendiri berdakwah dan mengajarkan ilmu kepada manusia. Yang dimaksud adalah menjaga marwah ilmu agar tidak diperalat demi popularitas atau kepentingan duniawi. Dengan adab yang benar, ilmu akan lebih mudah meresap ke dalam hati dan membawa manfaat bagi individu maupun umat secara luas.