• KEISLAMAN

Ketika Jabatan Melalaikan Agama, Alarm Bahaya bagi Iman Seorang Muslim

Yahya Sukamdani | Jum'at, 02/01/2026
Ketika Jabatan Melalaikan Agama, Alarm Bahaya bagi Iman Seorang Muslim Ilustrasi pemimpin zalim

Terasmuslim.com - Jabatan pada hakikatnya adalah amanah dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Namun, ketika jabatan justru melalaikan seseorang dari ibadah dan ketaatan, maka itu menjadi tanda bahaya bagi iman. Al-Qur’an mengingatkan, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19). Ayat ini menegaskan bahwa kelalaian dari mengingat Allah dapat berujung pada hilangnya kesadaran moral dan tujuan hidup.

Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umatnya tentang godaan kekuasaan. Beliau bersabda, “Demi Allah, kami tidak akan menyerahkan jabatan ini kepada orang yang memintanya atau yang berambisi terhadapnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa jabatan bukan sesuatu yang layak diperebutkan demi kepentingan pribadi, karena ambisi berlebihan sering kali melahirkan kelalaian, ketidakadilan, dan kerusakan agama.

Al-Qur’an juga menekankan bahwa kesibukan dunia, termasuk jabatan, tidak boleh menghalangi kewajiban utama seorang Muslim. Allah SWT berfirman, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat.” (QS. An-Nur: 37). Ayat ini menjadi standar keimanan: seberapa pun sibuk dan tinggi kedudukan seseorang, ia tetap menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah dan ketaatan.

Ketika jabatan melalaikan agama, maka yang dibutuhkan adalah muhasabah dan taubat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang… jabatannya, untuk apa ia gunakan.” (makna dari hadis tentang pertanggungjawaban amanah). Jabatan seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan menegakkan keadilan dan melayani umat, bukan alasan untuk meninggalkan shalat, kejujuran, dan akhlak mulia.