Ilustrasi foto menasehati
Terasmuslim.com - Setiap manusia hidup dalam ketidakpastian waktu. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan datang. Karena itu, Islam mengajarkan agar setiap amal saleh dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, seolah itulah amalan terakhir kita. Al-Qur’an mengingatkan dalam surah Luqman ayat 34 bahwa tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari dan di mana ia akan mati. Ayat ini menjadi dasar agar manusia tidak menunda kebaikan dengan alasan waktu masih panjang.
Rasulullah ﷺ juga menasihati umatnya untuk memanfaatkan waktu sebelum datang masa penyesalan. Dalam hadis riwayat Al-Hakim, beliau bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: hidupmu sebelum matimu…” Hadis ini menegaskan bahwa kesempatan beramal hanya ada selama kehidupan masih diberikan. Menunda amal baik sama artinya dengan menyia-nyiakan nikmat umur yang Allah titipkan.
Al-Qur’an kembali memperingatkan dalam surah Al-Hadid ayat 16 agar hati orang beriman tidak menjadi keras karena lalai mengingat Allah. Salah satu bentuk kelalaian adalah menunda kebaikan padahal mampu melakukannya. Amal saleh, sekecil apa pun, memiliki nilai besar di sisi Allah apabila dilakukan dengan ikhlas dan tepat waktu, sebelum pintu kesempatan itu tertutup.
Dengan menganggap setiap amal sebagai amalan terakhir, seorang muslim akan lebih berhati-hati dalam bersikap dan lebih bersemangat dalam berbuat baik. Rasulullah ﷺ bersabda, “Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datang berbagai fitnah” (HR. Muslim). Pesan ini mengajarkan bahwa menunda kebaikan bukan pilihan yang bijak, karena kematian bisa datang tanpa aba-aba, sementara bekal akhirat hanya bisa dikumpulkan saat masih hidup.