Ilustrasi menghormati guru
Terasmuslim.com - Dalam Islam, guru memiliki kedudukan mulia karena berperan menyampaikan ilmu dan membimbing akhlak. Al-Qur’an memerintahkan untuk memuliakan orang berilmu, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11). Namun, penghormatan kepada guru tidak boleh sampai pada sikap berlebihan yang menafikan kebenaran atau mengultuskan manusia, karena kemuliaan hakiki tetap milik Allah semata.
Rasulullah ﷺ mencontohkan adab yang seimbang terhadap guru dan sesama. Beliau bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda” (HR. Ahmad). Hadis ini menunjukkan pentingnya adab dan penghormatan, tetapi tetap dalam koridor akhlak Islam. Menghormati guru berarti mendengarkan, menaati dalam kebaikan, dan mendoakan, bukan menutup mata dari kesalahan jika bertentangan dengan syariat.
Di sisi lain, murid memang wajib diajarkan adab, namun pendidikan tidak boleh dilakukan dengan kekerasan atau tindakan yang melampaui batas. Islam melarang kezaliman dalam bentuk apa pun. Allah berfirman, “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Ma’idah: 8). Ayat ini menjadi landasan bahwa mendidik harus dilandasi keadilan, kasih sayang, dan hikmah, bukan emosi dan kekerasan.
Segala sesuatu yang berlebihan dalam Islam berujung pada kerusakan. Rasulullah ﷺ memperingatkan, “Hancurlah orang-orang yang berlebih-lebihan” (HR. Muslim). Prinsip wasathiyah (moderasi) inilah yang harus dijaga dalam dunia pendidikan. Guru dihormati tanpa diultuskan, murid dibina dengan adab tanpa dizalimi. Dengan keseimbangan ini, proses belajar akan melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan diridhai Allah.