Ilustrasi syirik
Terasmuslim.com - Islam adalah agama yang telah sempurna ajarannya, sehingga setiap bentuk ibadah dan keyakinan harus memiliki landasan dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ. Allah SWT berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3). Ayat ini menjadi dalil bahwa menambah-nambah perkara dalam agama, meskipun diklaim sebagai kebaikan, bukanlah bagian dari ajaran Islam yang benar.
Rasulullah ﷺ dengan tegas memperingatkan bahaya bid’ah dalam agama. Dalam hadisnya beliau bersabda, “Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa niat baik saja tidak cukup jika amalan tersebut tidak memiliki tuntunan syariat, termasuk tradisi yang diwariskan turun-temurun tanpa dalil yang sahih.
Sebagian bid’ah bahkan bisa membawa pelakunya pada kesyirikan, yaitu ketika tradisi tersebut mengandung unsur pengagungan selain Allah, keyakinan terhadap benda, tempat, atau tokoh tertentu yang diyakini memiliki kekuatan gaib. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48). Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya bahaya bid’ah yang mengarah pada syirik, karena dapat merusak pondasi tauhid.
Oleh sebab itu, setiap muslim dituntut untuk berhati-hati dan kritis terhadap tradisi yang dibungkus dengan label kebaikan. Ukuran kebenaran dalam Islam bukanlah banyaknya pengikut atau lamanya sebuah tradisi berlangsung, melainkan kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ. Dengan menuntut ilmu dan kembali kepada dalil, umat Islam akan terjaga dari bid’ah yang menyesatkan dan tetap berada di atas jalan tauhid yang lurus.