Ilustrasi foto nikmat aman
Terasmuslim.com - Dalam pandangan Islam, rezeki tidak terbatas pada materi. Cinta yang Allah tanamkan di dalam hati, istri yang setia, anak yang menyejukkan mata, serta sahabat yang menguatkan iman adalah bagian dari rezeki yang agung. Allah Ta’ala berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang” (QS. Ar-Rum: 21). Ayat ini menegaskan bahwa cinta dan ketenangan dalam keluarga adalah pemberian langsung dari Allah, bukan sekadar hasil usaha manusia.
Anak dan keluarga juga disebut sebagai karunia yang menenteramkan jiwa. Doa orang-orang beriman dalam Al-Qur’an adalah: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqan: 74). Psikologi dan akidah Islam memandang bahwa memiliki keluarga yang membawa pada ketaatan adalah rezeki besar yang tidak bisa dibeli dengan harta sebanyak apa pun.
Lebih tinggi dari semua itu, Islam dan Sunnah adalah rezeki yang paling agung. Hidayah untuk mengenal tauhid, mencintai Sunnah Rasulullah ﷺ, dan istiqamah di atas kebenaran adalah nikmat yang tidak diberikan kepada semua orang. Allah Ta’ala berfirman: “Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada iman dan menghiasinya dalam hatimu” (QS. Al-Hujurat: 7). Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya dalam urusan agama” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, sungguh merugi orang yang hanya mengejar rezeki harta, namun miskin dari cinta, iman, dan ketenangan batin. Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa” (HR. Bukhari dan Muslim). Islam mengajarkan keseimbangan: bekerja mencari harta adalah kewajiban, namun menjadikan iman, keluarga, dan Sunnah sebagai tujuan hidup adalah puncak kekayaan yang sesungguhnya.