Ilustrasi nikmat hidayah
Terasmuslim.com - Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh merasa aman dari kesesatan, karena hati manusia berada dalam genggaman Allah dan dapat berbolak-balik kapan saja. Al-Qur’an mengingatkan, “Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al-A’raf: 99). Ayat ini menegaskan bahwa merasa aman dari penyimpangan dan hukuman Allah adalah sikap yang berbahaya dan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesesatan tanpa disadari.
Rasulullah ﷺ sendiri, meskipun beliau adalah manusia paling mulia dan terjaga dari kesesatan, tetap banyak berdoa agar hatinya diteguhkan di atas kebenaran. Beliau bersabda, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menjadi teladan bahwa rasa takut akan kesesatan harus selalu disertai doa dan kerendahan hati, bukan rasa aman dan merasa paling benar.
Para sahabat Nabi ﷺ pun sangat khawatir terhadap keadaan iman mereka. Ibn Abi Mulaikah berkata, “Aku menjumpai tiga puluh sahabat Nabi ﷺ, semuanya takut jika dirinya tertimpa kemunafikan” (HR. Bukhari secara mu’allaq). Rasa takut ini bukan tanda lemahnya iman, tetapi justru bukti keimanan yang hidup dan kesadaran bahwa keselamatan iman membutuhkan penjagaan terus-menerus melalui ilmu, amal, dan keikhlasan.
Oleh karena itu, seorang Muslim diperintahkan untuk senantiasa introspeksi dan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah. Allah berfirman, “Dan jika kamu menaati kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al-An’am: 116). Tidak merasa aman dari kesesatan mendorong seorang mukmin untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan memohon hidayah, agar tetap istiqamah hingga akhir hayat.