• KEISLAMAN

Terlalu Sering Memendam Masalah Bisa Picu Gangguan Mental

Yahya Sukamdani | Senin, 08/12/2025
Terlalu Sering Memendam Masalah Bisa Picu Gangguan Mental Ilustrasi foto suami istri bercerita

Terasmuslim.com - Memendam masalah sendirian dalam jangka panjang dapat menimbulkan tekanan emosional dan mempengaruhi kesehatan mental. Dalam Islam, manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang saling membantu, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah:2 “Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” Ayat ini menunjukkan bahwa berbagi beban dan mencari dukungan adalah bagian dari ibadah dan bentuk saling menguatkan di antara sesama muslim.

Nabi ﷺ juga mengajarkan agar umatnya saling menasihati dan saling menguatkan. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda: “Agama itu nasihat.” Ini menunjukkan bahwa curhat kepada orang yang dapat dipercaya, berakhlak baik, dan memahami syariat adalah sesuatu yang dianjurkan, bukan kelemahan. Ketika seseorang menyimpan tekanan sendirian, ia lebih mudah diliputi kecemasan, ketakutan, dan pikiran negatif yang bisa merusak ketenangan jiwa.

Para ulama menjelaskan bahwa memiliki sahabat saleh adalah kebutuhan ruhani. Dalam QS. At-Taubah:119, Allah memerintahkan: “Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang jujur.” Teman yang jujur, amanah, dan baik akhlaknya dapat menjadi tempat berbagi masalah, memberikan pandangan bijak, serta menenangkan hati. Demikian pula pasangan hidup yang saleh berperan sebagai penenang jiwa, sebagaimana Allah menyebut pasangan sebagai “sakinah” dalam QS. Ar-Rum:21.

Secara medis, psikolog menyebut bahwa memendam masalah dapat memicu stres, depresi, burnout, dan gangguan kecemasan. Berbagi cerita dengan orang yang tepat terbukti secara ilmiah dapat menurunkan kadar hormon stres, meningkatkan rasa aman, dan memperkuat kesejahteraan emosional. Maka, syariat dan medis sejalan: memilih sahabat serta pasangan yang saleh sebagai tempat curhat adalah bentuk ikhtiar menjaga kesehatan mental dan spiritual.