• KEISLAMAN

Sepeninggal Rasulullah, Ujian Besar dan Keteguhan Umat dalam Menjaga Islam

Yahya Sukamdani | Sabtu, 15/11/2025
Sepeninggal Rasulullah, Ujian Besar dan Keteguhan Umat dalam Menjaga Islam Ilustrasi Abu Bakar dan Umar (Foto: Sindonews)

Terasmuslim.com - Sepeninggal Rasulullah SAW pada 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriah, umat Islam mengalami guncangan besar. Banyak sahabat tak percaya bahwa manusia paling mulia itu telah berpulang. Peristiwa ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” Ayat ini mengingatkan umat bahwa risalah Islam tetap tegak meski Nabi telah wafat. Kesedihan menyelimuti Madinah, tetapi ayat tersebut menjadi peneguh hati.

Abu Bakar ash-Shiddiq tampil sebagai sosok kunci yang menenangkan umat. Beliau berkata di hadapan kaum Muslimin: “Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.” (HR. Bukhari). Ucapan ini menjadi titik balik yang mengembalikan kejernihan umat. Dengan keteguhan imannya, Abu Bakar dipilih sebagai khalifah pertama untuk menjaga kelangsungan dakwah Islam.

Sepeninggal Rasulullah, umat menghadapi berbagai ujian, termasuk munculnya nabi-nabi palsu, orang-orang yang murtad, dan kelompok yang enggan membayar zakat. Abu Bakar memimpin perang melawan kemurtadan (Hurub al-Riddah) berdasarkan sabda Nabi SAW bahwa zakat adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Ketegasan ini menjadi bukti komitmen para sahabat dalam menjaga kemurnian ajaran Islam agar tidak terpecah atau berubah.

Di masa awal sepeninggal Rasulullah, para sahabat juga mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf untuk menjaga keotentikan wahyu. Upaya ini dilakukan atas usulan Umar bin Khattab dan dipimpin oleh Zaid bin Tsabit. Melalui kekompakan para sahabat, ajaran Islam tetap terjaga hingga generasi berikutnya. Momen sepeninggal Rasulullah menjadi pelajaran penting bahwa agama ini tidak bergantung pada figur, tetapi pada komitmen umat dalam menjaga wahyu dan sunnah secara istiqamah.