Ilustrasi nikmat hidayah
Terasmuslim.com - Kefakiran jiwa bukan berarti kekurangan harta, melainkan ketandusan hati dari keimanan dan ketenangan batin. Orang yang jiwanya fakir selalu merasa kurang, gelisah, dan tidak pernah puas, meski memiliki segalanya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20, “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, hiburan, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba dalam kekayaan serta anak keturunan...” Ayat ini mengingatkan bahwa mengejar dunia tanpa iman akan menjerumuskan manusia pada kefakiran batin yang tidak berujung.
Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kebahagiaan bukan pada materi, tetapi pada hati yang bersyukur dan ridha terhadap ketentuan Allah. Jiwa yang kaya akan merasa cukup dan tenang, sementara jiwa yang fakir terus haus akan kenikmatan dunia yang fana.
Kefakiran jiwa juga muncul ketika seseorang jauh dari dzikir dan tadabbur. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Artinya, ketenangan sejati tidak diperoleh dari dunia, melainkan dari hubungan yang kuat dengan Allah. Orang yang melupakan Allah akan kehilangan arah hidup, merasa hampa, dan mudah dikuasai oleh kesedihan serta kecemasan.