• KEISLAMAN

Menikah Adalah Seni Mengalah

Yahya Sukamdani | Jum'at, 24/10/2025
Menikah Adalah Seni Mengalah Ilustrasi foto suami istri harmonis

Terasmuslim.com - Menikah bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi perjalanan panjang untuk belajar memahami, menerima, dan saling mengalah. Dalam Islam, pernikahan disebut sebagai mitsaqan ghalizha sebuah ikatan yang sangat kuat. Di balik keindahannya, pernikahan menuntut kebijaksanaan dan kesabaran. Karena itu, banyak ulama mengatakan bahwa menikah adalah seni mengalah bukan kalah, tetapi kemampuan menahan ego demi menjaga keharmonisan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan pernikahan adalah sakinah (ketenangan), mawaddah (kasih), dan rahmah (sayang). Tiga hal ini tidak akan terwujud tanpa kemampuan mengendalikan diri dan berlapang dada terhadap pasangan. Mengalah bukan berarti kalah, tetapi bentuk cinta yang matang.

Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik dalam memperlakukan pasangan. Dalam hadis riwayat Ahmad, disebutkan:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Nabi Muhammad ﷺ dikenal lembut, penyabar, dan tidak mudah marah kepada istrinya. Beliau sering membantu pekerjaan rumah dan mengedepankan dialog ketika terjadi perbedaan. Itulah bentuk nyata dari seni mengalah dalam pernikahan — menjaga perasaan dan menempatkan ketenangan di atas ego.

Dalam rumah tangga, setiap pasangan pasti memiliki perbedaan cara pandang, kebiasaan, bahkan emosi. Di sinilah seni mengalah diuji. Mengalah bukan berarti menyerah, melainkan memilih kedamaian daripada perdebatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan memberi maaf melainkan kemuliaan.”
(HR. Muslim)

Hadis ini bisa diterapkan dalam kehidupan berumah tangga: siapa yang memberi maaf dan menahan ego, justru dimuliakan oleh Allah. Seni mengalah adalah proses mematangkan cinta. Ia melatih keikhlasan, kesabaran, dan empati. Pasangan yang mampu mengalah bukan karena lemah, tetapi karena cinta dan iman yang kuat. Sebab, rumah tangga tidak dibangun dengan siapa yang lebih benar, melainkan siapa yang lebih banyak bersabar.

Ketika dua orang saling mengalah karena Allah, maka Allah akan menurunkan keberkahan dalam rumah tangga mereka. Ketenangan bukan datang dari banyaknya harta, melainkan dari hati yang saling memahami.