Ilustrasi suasana ibadah Haji
Terasmuslim.com - Ibadah haji memiliki akar sejarah yang panjang sejak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mendirikan Ka’bah. Allah berfirman: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus…” (QS. Al-Hajj: 27). Seruan ini menjadi awal mula syariat haji, yang kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Pada masa Rasulullah, haji pertama yang beliau pimpin dikenal dengan Haji Wada’, tahun 10 H, di mana beliau menyampaikan khutbah perpisahan yang berisi pesan-pesan pokok tentang persatuan umat, larangan menumpahkan darah tanpa hak, serta pentingnya menjaga amanah.
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, para khalifah meneruskan syiar haji dengan menjaga keamanan jalur menuju Makkah. Tradisi ini semakin teratur pada masa Khilafah Abbasiyah dan Utsmaniyah, di mana infrastruktur haji dibangun, termasuk jalan, sumur, dan penginapan bagi jamaah. Haji bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga pertemuan umat Islam dari berbagai wilayah, yang mempererat ukhuwah dan pertukaran ilmu. Perjalanan panjang penuh pengorbanan itu memperlihatkan betapa haji adalah ibadah yang sarat makna spiritual sekaligus sosial.
Kini, ibadah haji dijalankan dengan fasilitas modern yang jauh lebih aman dan tertata, meski jumlah jamaah terus meningkat. Pemerintah Arab Saudi memfasilitasi pembangunan Masjidil Haram, Mina, Arafah, serta sistem transportasi haji. Meskipun demikian, makna haji tidak berubah: ia tetaplah panggilan Allah yang menyatukan umat Islam di tanah suci. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa berhaji lalu tidak berkata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (bersih) seperti hari dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari masa Nabi hingga era modern, haji selalu menjadi momentum penyucian diri dan peneguhan tauhid.