Ilustrasi sedekah (foto: THE PENINSULA QATAR/ tribunnews)
Terasmuslim.com - Dalam ajaran Islam, perbuatan baik hanya bernilai di sisi Allah jika dilakukan dengan ikhlas. Amal yang dihitung-hitung atau diungkit kembali justru menghilangkan nilai kebaikan di dalamnya. Sikap seperti ini dianggap mencederai keikhlasan dan dapat menghapus pahala yang seharusnya didapatkan.
Al-Qur’an dengan tegas memperingatkan umat Islam agar tidak merusak sedekah dan amal saleh dengan mengungkit pemberian. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 264, Allah menyebutkan bahwa amal yang disertai riya dan ungkitan ibarat batu licin yang tertimpa hujan deras sehingga tak tersisa kebaikan sedikit pun.
Rasulullah ﷺ juga menekankan bahwa amal kebaikan harus lahir dari hati yang tulus, tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan balasan dari manusia. Menghitung-hitung atau mengungkit amal justru mencerminkan ketidakikhlasan, bahkan bisa menimbulkan kesombongan dalam hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, menghindari sikap ini berarti menjaga hati untuk tetap rendah diri, tidak membandingkan kebaikan diri dengan orang lain, serta menyadari bahwa semua amal hanya untuk Allah. Seorang Muslim sejati akan menolong, bersedekah, atau berbuat baik tanpa berharap pujian dan balasan dari sesama manusia.
Dengan demikian, Islam mengajarkan bahwa kebaikan sejati bukan pada banyaknya amal, tetapi pada kemurnian niat di balik amal itu. Tanpa keikhlasan, setiap kebaikan yang dihitung-hitung akan menjadi sia-sia di hadapan Allah.