Ilustrasi - guru yang sedang mengajar di Masjid (Foto: BERITAPENAJAM)
Jakarta, Terasmuslim.com - Guru memiliki peran strategis dan kontribusi besar dalam bangsa juga agama. Mereka merupakan agen perubahan dalam mencetak generasi yang cerdas.
Di dalam agama Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat mulia, bahkan mereka dianggap sebagai pewaris para nabi dalam konteks menyampaikan ilmu dan membimbing umat.
Mengutip dari kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, “Merekalah para pelita yang menerangi dan mencerahkan masyarakat di setiap zamannya.
Bahkan Hasan al-Bashri rahimahullah menyampaikan penjelasan bahwa jika bukan sebab para ulama yang mengajarkan ilmunya maka niscaya manusia akan berubah seolah-olah seperti binatang.”
Seorang guru memiliki tempat serta kedudukan yang tinggi, hal ini diterangkan dalam Q.S Al-Mujadilah ayat 11 :
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Nabi Muhammad Saw selain menyampaikan risalah, beliau juga diutus sebagai pengajar dan pendidik umat manusia.
إِنَّ اللهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengutusku untuk memaksa atau menyusahkan orang, akan tetapi Dia mengutusku sebagai seorang pengajar dan orang memudahkan urusan.” (HR. Muslim)
Dalam konteks kebangsaan, masyarakat Indonesia kerap menjuluki guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Hal ini dikarenakan guru memberikan kontribusi nyata dalam mencerdaskan anak bangsa, sehingga layak disebut pahlawan.
Dikutip dalam buku Secangkir Kopi untuk Sang Guru karya Anas Basaruddin, julukan pahlawan tanpa tanda jasa yang disematkan kepada guru muncul sekitar tahun 1970 hingga 1980-an.
Profesi guru merupakan pekerjaan yang luar biasa berat, mereka dituntut pengetahuan yang luas sampai bersekolah hingga jenjang tinggi, namun tidak mendapatkan bayaran yang sepadan. Hal inilah yang menurut Basaruddin yang menjadi latar belakang julukan tersebut.
Oleh karena itu, kedudukan guru dalam bangsa dan agama menempati posisi yang mulia. Maka sudah sepantasnya para guru mendapatkan penghargaan yang layak, baik secara moral ataupun material dari masyarakat dan negara.
(Bunga Adinda/Magang juga berkontribusi dalam artikel ini)