Ilustrasi bulan Safar
Terasmuslim.com - Di tengah masyarakat, masih ada kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan penuh kesialan. Sebagian orang bahkan mengaitkannya dengan meningkatnya musibah, sakit, hingga kegagalan dalam usaha. Namun, benarkah keyakinan itu memiliki dasar dalam ajaran Islam?
Sejumlah ulama menegaskan bahwa anggapan bulan Safar sebagai bulan sial hanyalah mitos yang tidak berdasar. Rasulullah ﷺ sendiri membantah kepercayaan tersebut dalam sabdanya: “Tidak ada thiyarah (pertanda sial), tidak ada thiyarah dengan burung hantu, tidak ada penyakit menular dengan sendirinya, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi bukti kuat bahwa Islam tidak mengenal konsep bulan sial. Semua bulan adalah ciptaan Allah ﷻ yang sama nilainya, tidak ada yang khusus membawa kesialan. Justru, mempercayai adanya bulan sial bisa mengarah pada takhayul dan syirik halus, karena meyakini sesuatu selain Allah sebagai penentu nasib.
Dalam catatan sejarah Islam, bulan Safar juga digunakan Rasulullah ﷺ dan para sahabat untuk melakukan berbagai kegiatan penting, termasuk peperangan. Hal ini semakin menguatkan bahwa tidak ada larangan atau kesialan khusus di bulan tersebut.
Para ulama menegaskan, ujian hidup berupa musibah, penyakit, atau kesulitan, dapat terjadi kapan saja, tidak hanya di bulan Safar. Itu adalah bagian dari takdir Allah dan sarana untuk menguji keimanan seorang hamba.
Oleh karena itu, umat Islam sebaiknya menjadikan bulan Safar sebagai momentum memperkuat doa, amal saleh, dan tawakal kepada Allah ﷻ. Dengan demikian, bulan ini bukan lagi dianggap bulan sial, melainkan tetap bulan yang penuh kesempatan meraih kebaikan.
Kesimpulannya, keyakinan bahwa bulan Safar adalah bulan sial merupakan mitos belaka. Faktanya, Islam menolak anggapan tersebut dan mengajarkan bahwa semua bulan adalah sama di sisi Allah ﷻ.