Pemimpin Tertinggi Iran, Sayyid Ali Hosseini Khamenei (Foto: ATP)
Jakarta, Terasmuslim.com - Iran, negara yang berada di kawasan Timur Tengah, pernah memiliki hubungan erat dengan Amerika Serikat, terutama di masa pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi dari Dinasti Pahlavi. Kala itu, pengaruh Washington begitu besar sehingga Iran dijuluki sebagai "boneka" AS.
Namun, segalanya berubah drastis setelah Revolusi Iran meletus pada 1979. Revolusi tersebut menggulingkan Shah dan melahirkan sistem pemerintahan baru berbentuk Republik Islam di bawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini.
Perubahan ini tak hanya mengguncang politik domestik Iran, tetapi juga menandai permusuhan terbuka terhadap AS. Gus Baha, ulama karismatik asal Rembang, bahkan menyebut bahwa sejak revolusi, keberanian Iran dalam menantang AS menjadi ciri khas bangsa itu.
Permusuhan Iran-AS tak terjadi secara tiba-tiba. Ketegangan mulai mencuat sejak era 1950-an ketika Perdana Menteri Mohammad Mossadeq mencoba menasionalisasi ladang minyak Iran yang kala itu dikuasai Inggris.
Menyikapi langkah tersebut, AS dan Inggris mengatur kudeta yang menjatuhkan Mossadeq dan mengangkat kembali Reza Shah ke tampuk kekuasaan.
Hal ini memicu ketidakpuasan rakyat Iran dan memperkuat gerakan oposisi yang dipimpin Ayatollah Khomeini.
Kepulangan Khomeini dari pengasingan pada 1979 menjadi titik balik sejarah. Revolusi pun meletus, menggulingkan monarki dan mengubah Iran menjadi negara Islam.
Keputusan Reza Shah untuk pergi ke AS guna pengobatan justru menyulut kemarahan rakyat, memperparah sentimen anti-Amerika di negara itu.
Sejumlah peristiwa makin memperburuk hubungan kedua negara:
1. Perang Iran-Irak yang meletus pada 1980, di mana AS justru membantu militer Irak.
2. Aksi penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1981 oleh mahasiswa pro-Khomeini, yang menawan 52 warga Amerika selama lebih dari setahun.
Menurut Gus Baha yang dikutip dari beberapa sumber, sejak Republik Islam berdiri, Iran tak pernah mundur dalam menghadapi dominasi Barat, terutama AS. Keberanian itu menjadi identitas baru yang melekat pada negeri para mullah hingga hari ini.